JawaPos.com- Banjir bandang dan longsor yang menerjang desa-desa di dua kecamatan, Bawean, Gresik, pada Kamis-Jumat (2-3 Maret) kali ini benar-benar berdampak serius. Banyak rumah, fasilitas umum seperti sekolah, dan jembatan terputus. Warga pun gotong royong mandiri.

“Kami gotong-royong sendiri, dibantu Pemdes memberikan konsumsi nasi kepada warga,” ungkap Saufam Mujib, salah seorang warga Dusun Daun Timur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, kepada awak media melalui sambungan telepon, Jumat (3/3). Di Daun Timur, ada tujuh rumah yang rusak. Tiga rumah di antaranya roboh.

Demikian juga di Desa Balik Terus. Pemdes bersama Forkopimcam Sangkapura juga melakukan gotong-royong. Menurut Kepala Deasa Balik Terus Abdul Aziz, di desanya ada sekitar 50 rumah terdampak longsor di satu dusun. Yakni, Dusun Songai Teros Deje. “Dua rumah rata dengan tanah akibat longsor. Sudah tidak bisa ditempati lagi dan penghuninya trauma karena dekat sekali dengan area bukit yang longsor,” ujarnya.

Dari dua runah itu, satu keluarga kurang mampu. Mereka dievakuasi ke rumah kerabatnya. Aziz mengatakan, pihaknya akan membangunkan rumah melalui program bedah rumah bagi warga yang terdampak sangat parah. “Dari sekian bencana di sini, anggaran desa tidak mencukupi tanpa bantuan dari Pemda Gresik,” tuturnya.

Saat ini, bantuan sementara yang diharapkan warga adalah sembako. Selain itu, pembangunan infrastruktur. Sebab, beberapa fasilitas jalan dan jembatan rusak. “Ada tiga jembatan yang putus, dan akses jalan poros desa putus total di Dusun Manggureben. Mobil saya juga tidak bisa keluar desa,” jelasnya.

Di tempat lain, Kades Gunungteguh Haris menyebut, di desanya ada 27 rumah yang diterjang longsor. Warga setempat juga melakukan gotong royong di beberapa rumah dan jalan yang terdampak. ’’Semua rumah yang terdampak longsor tidak roboh, rata-rata rusak sebagian saja. Beberapa perabot rumah ada yang hilang dan rusak imbas banjir dan longsor,’’ paparnya.

Surat Edaran Camat

Sementara itu, Camat Sangkapura M. Syamsul Arifin mengeluarkan surat edaran pascabanjir bandang dan tanah longsor tersebut. Surat itu ditujukan kepada seluruh Kades, tokoh agama, dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Sangakapura. Dalam surat itu, dia memberikan instruksi beberapa hal.

Pertama, melakukan kontrol dan pengawasan penuh terhadap aktivitas penebangan pohon, pengerukan tanah, dan penambangan batu. Terutama di arera tebing atau gunung yang diduga dapat menyebabkan kerusakan hutan atau lingkungan, di wilayah masing-masing secara kontinyu.

Kedua, secara masif tetap mensosialisasikan kepada seluruh warga tidak membuang sampah sembarangan. Ketiga, melakukan normalisasi talud dan saluran air lainnya adar mencegah terjadinya luapan sungai yang berlebih ketika curah hujan tinggi.

Keempat, melakukan evakuasi kepada warga yang rumahnya berlokasi pada tanah yang miring dan berpotensi longsor. Kelima, kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, kiai, dan para ustad agar menimbau seluruh lapisan masyarakat  untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan menyemarakkan kegiatan doa bersama memohon ampun dan perlindungan Allah SWT agar terhindar dari bencana lebih besar.

Keenam, bersinergi menyiagakan tim siaga bencana untuk memantau kondisi terkini  di lapangan, melakukan koordinasi dengan aparatur desa, karang taruna, organisasi kepemudaan, para relawan dan lainnya, serta menyiapkan evakuasi jika kondisi darurat.

By admin