Beritaterkini – Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali memicu bencana alam. Kali ini, kawasan wisata Guci menjadi salah satu lokasi terdampak setelah banjir bandang menerjang area tersebut pada Sabtu (20/12) sore. Peristiwa ini sempat mengejutkan pengunjung dan pengelola wisata karena air datang cukup cepat dengan arus yang kuat.
Banjir bandang di kawasan Guci bukan kali pertama terjadi, namun intensitas hujan tinggi dalam waktu singkat membuat debit air sungai meningkat drastis. Luapan air membawa berbagai material seperti lumpur, batu, hingga kayu, sehingga mengganggu aktivitas wisata dan merusak sejumlah fasilitas umum di area pemandian air panas tersebut.
Meski demikian, aparat kepolisian dan pengelola objek wisata memastikan kondisi masih terkendali. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini, namun masyarakat dan wisatawan diminta tetap waspada, terutama saat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah pegunungan.
Kronologi Banjir Bandang di Kawasan Wisata Guci
Banjir bandang yang melanda kawasan objek wisata Guci terjadi pada Sabtu sore sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu sungai sejak siang hari, menyebabkan volume air meningkat tajam.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Bojong, Komisaris Polisi Khaerun, menjelaskan bahwa banjir tersebut merupakan banjir kiriman dari Sungai Sawangan yang berada di perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes.
“Tidak ada korban jiwa pada peristiwa itu, jadi masih aman. Banjir terjadi karena kiriman air dari wilayah atas,” ujar Kompol Khaerun, dikutip dari laporan ANTARA, Sabtu (20/12).
Air yang meluap kemudian mengalir ke Sungai Gung dan masuk ke kawasan wisata Guci dengan arus cukup deras. Kondisi ini membuat sebagian area wisata tergenang dalam waktu singkat.
Dampak Banjir Terhadap Fasilitas Wisata
Pipa Pancuran 13 Terbawa Arus
Salah satu dampak paling signifikan dari banjir bandang di kawasan Guci adalah rusaknya fasilitas Pancuran 13, yang merupakan salah satu titik pemandian favorit wisatawan. Menurut keterangan pihak pengelola, pipa air di Pancuran 13 dilaporkan terbawa arus sungai akibat derasnya aliran air.
Petugas Pancuran 13, Jam Zami, mengungkapkan bahwa banjir datang secara tiba-tiba bersamaan dengan hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.
“Luapan air sungai dengan arus kuat membawa material lumpur, batu, dan kayu ke area wisata. Banjir datang cukup deras sekitar pukul 15.00 WIB bersamaan dengan hujan deras,” kata Jam Zami.
Jembatan Kecil Rusak dan Kolam Tertutup Material
Selain pipa air, sebuah jembatan kecil yang berada di sekitar Pancuran 13 juga dilaporkan terbawa arus banjir. Jembatan tersebut biasa digunakan pengunjung untuk mengakses area pemandian.
Tak hanya itu, kolam pemandian air panas di Pancuran 13 sempat tertutup material lumpur dan bebatuan, sehingga untuk sementara waktu tidak dapat digunakan. Petugas harus melakukan pembersihan agar area tersebut kembali aman dan layak dikunjungi.
Kondisi Terkini Pasca Banjir Bandang
Memasuki Sabtu petang, debit air banjir dilaporkan mulai surut. Aliran sungai kembali ke kondisi normal, meski hujan ringan masih turun di kawasan wisata Guci.
Pihak kepolisian dan pengelola objek wisata terus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada potensi banjir susulan. Sejumlah petugas juga disiagakan di titik-titik rawan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya debit air apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Kompol Khaerun mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan, agar lebih berhati-hati saat berkunjung ke kawasan Guci, terutama pada musim hujan.
“Kami mengimbau warga dan pengunjung objek wisata Guci agar selalu waspada dan memperhatikan kondisi cuaca. Jika hujan deras, sebaiknya menjauh dari aliran sungai,” tegasnya.
Karakteristik Wilayah Guci yang Rawan Banjir
Secara geografis, kawasan wisata Guci berada di lereng Gunung Slamet dengan kontur wilayah perbukitan dan dilalui sejumlah aliran sungai kecil. Kondisi ini membuat Guci cukup rentan terhadap banjir bandang, terutama saat curah hujan tinggi di wilayah hulu.
Menurut sejumlah kajian kebencanaan, banjir bandang di daerah pegunungan umumnya dipicu oleh hujan deras dalam durasi singkat, sehingga tanah tidak mampu menyerap air secara optimal. Akibatnya, air langsung mengalir ke sungai dan membawa material alam yang ada di sekitarnya.
Fenomena banjir kiriman seperti yang terjadi di kawasan Guci juga sering terjadi karena wilayah hulu sungai berada di daerah lain, sehingga warga di hilir tidak selalu menyadari adanya peningkatan debit air secara tiba-tiba.
Upaya Antisipasi dan Mitigasi Bencana
Pemerintah daerah bersama pengelola objek wisata Guci terus berupaya meningkatkan sistem mitigasi bencana. Beberapa langkah yang telah dan perlu dilakukan antara lain:
Peningkatan Sistem Peringatan Dini
Pemasangan alat pemantau curah hujan dan debit air sungai dinilai penting untuk memberikan peringatan dini kepada pengelola dan wisatawan jika terjadi potensi banjir bandang.
Edukasi Pengunjung dan Warga Lokal
Pengunjung diimbau untuk selalu mematuhi rambu peringatan dan arahan petugas. Edukasi terkait bahaya banjir bandang dan tanda-tanda alam sebelum bencana juga perlu terus disosialisasikan.
Penataan Aliran Sungai dan Infrastruktur
Perawatan aliran sungai, penguatan tebing, serta penataan ulang fasilitas wisata di dekat sungai menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak kerusakan saat banjir terjadi.
Imbauan untuk Wisatawan
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke kawasan Guci Tegal, disarankan untuk selalu memantau prakiraan cuaca sebelum berangkat. Jika hujan deras terjadi, sebaiknya menunda aktivitas di sekitar sungai atau area pemandian terbuka.
Dengan kewaspadaan bersama dan dukungan sistem mitigasi yang baik, diharapkan kawasan wisata Guci tetap aman dan nyaman dikunjungi, meski berada di wilayah yang rawan bencana alam.