Beritaterkini.co.idNama Pagi Sore belakangan ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Insiden yang melibatkan seorang wisatawan Malaysia di cabang PIK, Jakarta Utara, sontak menarik perhatian banyak orang dan memunculkan gelombang seruan boikot yang cukup viral. Pihak manajemen sudah menyampaikan permintaan maaf resmi, namun di balik kehebohan itu, banyak orang justru mulai penasaran: siapa sebenarnya pemilik restoran Padang premium yang sudah dikenal luas ini?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Di balik nama Pagi Sore yang terdengar tunggal, tersimpan sejarah panjang tentang persahabatan, kerja keras, ekspansi bisnis, hingga perpisahan yang menghasilkan dua entitas berbeda dengan identitas masing-masing. Kisah ini bermula lebih dari lima dekade lalu di Kota Palembang, jauh sebelum cabang-cabang Pagi Sore mulai bermunculan di berbagai kota besar Indonesia termasuk Jakarta.

Memahami kepemilikan RM Pagi Sore berarti memahami perjalanan dua sahabat yang membangun sesuatu dari nol, membesarkannya bersama selama tiga dekade, lalu pada akhirnya memilih jalan yang berbeda namun tetap membawa warisan yang sama ke arah masing-masing. Ini adalah cerita bisnis keluarga yang penuh pelajaran berharga.

Lahir dari Persahabatan Dua Orang Asal Bukittinggi

Berdiri Sejak 1973 di Palembang

Pagi Sore pertama kali berdiri pada tahun 1973, didirikan oleh dua sahabat asal Bukittinggi, Sumatera Barat, yaitu H. Lismar dan H. Sabirin. Keduanya memulai usaha kuliner ini di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, bermodalkan tekad kuat dan pengalaman memasak masakan Minang yang sudah mengalir dalam darah mereka sejak kecil.

Memilih Palembang sebagai titik awal adalah keputusan yang terbukti tepat. Kota ini adalah salah satu pusat perdagangan yang ramai di Sumatera, dengan populasi yang beragam dan selera makan yang tinggi terhadap masakan Nusantara. Pagi Sore pun perlahan-lahan menemukan tempatnya di hati masyarakat Palembang.

Ekspansi Bertahap di Sumatera Selatan

Keberhasilan di lokasi pertama mendorong H. Lismar dan H. Sabirin untuk terus memperluas jangkauan bisnis mereka. Satu per satu cabang dibuka di berbagai penjuru Palembang, mulai dari Jalan Basuki Rahmat, Jalan R. Sukamto, Jalan Mayor Zen, Jalan Srijaya Negara, Komplek Ilir Barat Permai, Jalan Durian, hingga Jalan Beringin Janggut.

Ekspansi tidak berhenti di sana. Pada 16 Desember 1990, mereka meresmikan cabang baru di Indralaya KM 35, semakin memperkuat posisi Pagi Sore di Sumatera Selatan. Lima tahun kemudian, pada 12 Agustus 1995, cabang di Teluk Gelam, Lintas Timur resmi dibuka sebagai bagian dari strategi ekspansi yang terus konsisten dijalankan.

Perpisahan Setelah Tiga Dekade Bersama

Dua Visi yang Akhirnya Berbeda Arah

Setelah mengelola bisnis bersama selama hampir 30 tahun, H. Lismar dan H. Sabirin memutuskan untuk berpisah pada tahun 2003. Perpisahan ini diduga dipicu oleh perbedaan pandangan dalam hal pengelolaan dan arah pengembangan bisnis ke depan. Sebuah dinamika yang sesungguhnya lumrah terjadi dalam kemitraan bisnis jangka panjang.

Yang menarik, meski sudah tidak lagi satu atap manajemen, keduanya tetap mempertahankan nama Pagi Sore. Ini adalah keputusan yang bijak secara bisnis, karena nama tersebut sudah terlanjur dikenal luas dan memiliki reputasi yang kuat di benak konsumen. Jadilah dua entitas berbeda dengan satu nama yang sama namun identitas visual yang berbeda.

Pagi Sore Merah: Ekspansi ke Jakarta dengan Jagonya Rendang

Manajemen H. Sabirin mengambil langkah berani dengan membawa Pagi Sore ke Jakarta pada tahun 2006. Versi ini dikenal dengan identitas logo merah, kuning, dan hijau, serta slogan yang sangat mudah diingat: “Jagonya Rendang.” Di kalangan penggemar masakan Padang di Jakarta, inilah yang sering disebut sebagai Pagi Sore Merah.

Dari sisi cita rasa, Pagi Sore Merah menampilkan karakter yang memadukan rasa medok, gurih, pedas rempah, dan sedikit manis. Menu unggulan yang menjadi daya tarik utamanya adalah Rendang dan Ayam Pop Gurih, dua hidangan yang memang sudah menjadi ikon masakan Minang di seluruh Indonesia.

Pagi Sore Hijau: Karakter Minang yang Lebih Kuat

Sementara itu, manajemen H. Lismar memilih rute ekspansi yang berbeda. Jaringan ini memperluas cabangnya ke Lubuk Linggau, Bangka Belitung, Bandung, dan akhirnya juga ke Jakarta. Identitas visualnya menggunakan dominasi warna hijau, putih, dan kuning, dengan nama lengkap “Rumah Makan Padang Pagi Sore Khas Minang”, yang sering disebut sebagai Pagi Sore Hijau.

Dari sisi rasa, Pagi Sore Hijau tampil dengan karakter yang lebih pedas, gurih, dan berempah kuat sesuai tradisi masakan Minang yang lebih otentik. Menu gulai menjadi andalan utama versi ini, dengan pilihan seperti Gulai Gajebo, Gulai Otak, dan Gulai Telur Ikan yang menjadi favorit pelanggan setianya.

Kini Dikelola Generasi Penerus

Perjalanan panjang dari sebuah warung makan sederhana di Palembang pada 1973 hingga menjadi jaringan restoran Padang premium yang tersebar di berbagai kota besar Indonesia adalah pencapaian luar biasa. Kini, operasional kedua versi Pagi Sore sudah berada di tangan generasi penerus dari masing-masing pendiri, melanjutkan warisan kuliner yang sudah dibangun dengan susah payah selama lebih dari lima dekade.

Terlepas dari kontroversi yang sempat muncul belakangan ini, kisah di balik kepemilikan RM Pagi Sore adalah cerita tentang kerja keras, persahabatan, dan warisan kuliner yang terus hidup dari generasi ke generasi. Kamu yang penasaran dengan perbedaan antara Pagi Sore Merah dan Pagi Sore Hijau, mungkin saatnya mencoba keduanya dan menemukan mana yang paling cocok dengan selera lidahmu!

By admin