JawaPos.com- Selain menjadi pusat pelayaran, Sidoarjo dikenal sebagai pusat perkebunan tebu dan pabrik gula pada 1900-an atau masa kolonial Belanda. Karena itu, Kota Delta juga memiliki rumah sakit yang bisa menampung puluhan orang.
Pegiat sejarah dari Komunitas Sidoarjo Masa Kuno dr Sudi Harjanto menemukan fakta bahwa sejak seratus tahun lalu, ada rumah sakit yang memiliki 85 tempat tidur untuk rawat inap, apotek besar, dan poli rawat jalan. ’’Itu ada di dalam koran Soerabaijasch Handelsblad tahun 1906,’’ ungkapnya.
Di sana tertera bahwa agar industri, khususnya gula, bisa terus berjalan dan tidak kehabisan sumber daya manusia akibat banyaknya penyakit menular, seorang dokter sipil asal Belanda bernama dr J.H.T. Khollbruge didatangkan. Saat itu, banyak sekali penyakit yang ditemukan. Mulai malaria, penyakit kelamin, hingga oftalmia atau peradangan pada mata.
Ketika itu, hanya ada rumah panti yang bisa menampung. ’’Sedangkan pada masa itu ada ratusan orang yang meminta untuk disembuhkan,’’ tuturnya. Khollbruge kemudian mencarikan dana. Didapatlah rumah yang bisa menampung 20 pasien. Tetapi, semakin lama pasien makin membeludak. Alhasil, dokter sipil itu meminta kepada pemerintah setempat untuk menjadikan sekolah pribumi sebagai rumah sakit.
Dengan kapasitas 80 orang lebih dan memiliki kelengkapan, tempat perawatan tersebut dinamakan Roemah Sakit Shidoharjo. Terkait apakah itu merupakan RSUD Sidoarjo sekarang, Sudi menyangkalnya.
Menurut dia, RSUD Sidoarjo yang sekarang bukan Roemah Sakit Shidoharjo. ’’Kalau itu bangunan baru, bangunan asli RS Shidoharjo masih perdebatan. Ada yang bilang di tempat gedung DPRD, ada yang bilang di kompleks kantor pemkab,’’ tuturnya.
Karena itu, perlu ada kajian sejarah agar bangunan asli RS Shidoharjo bisa ditemukan dan dijadikan cagar budaya.