
Berita Terkini – Pernahkah kamu merasa marah tapi memilih diam? Atau sedih tapi pura-pura baik-baik saja karena tidak mau merepotkan orang lain? Banyak dari kita terbiasa menelan perasaan sendiri — menganggapnya sebagai bentuk ketegaran, kedewasaan, atau sekadar cara paling praktis untuk menghindari konflik. Padahal, kebiasaan memendam emosi ini ternyata bukan tanpa konsekuensi, terutama bagi kesehatan tubuh.
Yang menarik, hubungan antara kondisi psikologis dan fisik bukan sekadar ungkapan kiasan. Ada mekanisme biologis nyata yang bekerja di baliknya. Ketika kamu terus-menerus menekan emosi tanpa pengelolaan yang sehat, otak dan tubuh bereaksi dengan cara yang jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Dan reaksi itu, bila terjadi dalam jangka panjang, bisa berdampak pada sistem-sistem penting dalam tubuh.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari PP-PDSKJI menjelaskan dengan cukup gamblang bagaimana stres psikologis yang tak tertangani bisa memengaruhi tubuh secara biologis. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita lebih sadar dan mulai mengambil langkah yang tepat dalam mengelola emosi sehari-hari.
Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh Saat Kamu Stres?
Tubuh manusia dirancang untuk merespons tekanan. Saat kamu menghadapi situasi menegangkan — entah itu konflik di kantor, masalah keluarga, atau beban pikiran yang menumpuk — otak langsung bereaksi. Menurut dr. Lahargo, otak akan mengaktifkan dua sistem sekaligus: hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis dan sistem saraf simpatis.
Aktivasi kedua sistem ini memicu pelepasan hormon stres, terutama kortisol dan katekolamin. Dalam situasi normal dan bersifat sementara, respons ini justru bermanfaat — membantu tubuh bersiap menghadapi ancaman, meningkatkan kewaspadaan, dan mendorong kita untuk segera bertindak. Inilah yang disebut respons “fight or flight” yang sudah ada sejak manusia purba.
Masalahnya bukan pada respons stres itu sendiri, melainkan ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa jeda. Saat tekanan psikologis bersifat kronis, tubuh seolah-olah terus berada dalam mode siaga tinggi. Kortisol yang seharusnya naik-turun sesuai kebutuhan malah terus diproduksi dalam kadar tinggi, dan hal ini mulai mengganggu keseimbangan internal tubuh.
Dampak Stres Kronis pada Sistem Imun dan Peradangan
Salah satu dampak yang paling sering dibahas para ahli adalah hubungan antara stres kronis dan sistem kekebalan tubuh. Dr. Lahargo menjelaskan bahwa pada kondisi stres berkepanjangan, regulasi kortisol dan sensitivitas reseptor glukokortikoid bisa mengalami perubahan. Keseimbangan sitokin — molekul kecil yang berperan dalam komunikasi antar sel imun — pun bisa terganggu.
Akibatnya, respons inflamasi dalam tubuh bisa mengalami disregulasi. Artinya, sistem imun tidak bekerja sebagaimana mestinya: bisa terlalu aktif, bisa juga justru melemah. Ini yang kemudian menjadi titik temu antara kesehatan mental dan kesehatan fisik — bukan sekadar soal “pikiran memengaruhi perasaan”, tapi benar-benar ada jalur biologis yang menghubungkan keduanya.
Jangan Salah Kaprah: Tidak Semua Penyakit Berasal dari Pikiran
Di sinilah penting untuk berhenti sejenak dan tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu sederhana. Fakta bahwa stres bisa memengaruhi sistem imun bukan berarti setiap penyakit yang kamu alami adalah “salah pikiran kamu sendiri.” Dr. Lahargo secara tegas mengingatkan hal ini.
Ambil contoh penyakit autoimun. Kondisi ini, di mana sistem imun justru menyerang sel-sel tubuh sendiri, tidak bisa dijelaskan oleh satu faktor tunggal saja. Para peneliti mengidentifikasi banyak faktor yang bisa berkontribusi: genetik, hormonal, paparan infeksi tertentu, lingkungan, kebiasaan merokok, kondisi mikrobioma usus, faktor epigenetik, hingga faktor psikososial. Stres hanyalah satu dari sekian banyak variabel.
“Memendam emosi bukan penyebab langsung penyakit autoimun. Namun stres kronis memang dapat berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh,” kata dr. Lahargo. Dengan kata lain, stres bisa menjadi salah satu faktor yang memperburuk atau memperbesar risiko — bukan satu-satunya biang keladi.
Tidak Semua Orang yang Memendam Emosi Akan Jatuh Sakit
Ini juga perlu dipahami dengan proporsional. Jutaan orang mengalami tekanan psikologis berat sepanjang hidupnya tanpa kemudian mengembangkan penyakit autoimun atau gangguan fisik serius lainnya. Sebaliknya, ada pula orang yang didiagnosis penyakit tertentu tanpa pernah merasa mengalami stres berlebih atau memiliki kebiasaan memendam emosi.
Tubuh manusia memiliki kapasitas ketahanan dan pemulihan yang luar biasa. Sesekali menahan emosi — misalnya memilih tidak bereaksi berlebihan di situasi yang tidak tepat — adalah hal yang wajar dan bahkan adaptif. Yang menjadi perhatian adalah ketika penekanan emosi itu menjadi pola konsisten jangka panjang tanpa ada ruang untuk pemrosesan dan penyaluran yang sehat.
Cara Sehat Menyalurkan dan Mengelola Emosi
Alih-alih berupaya menghilangkan stres sepenuhnya — yang mustahil dilakukan — fokus yang lebih realistis adalah membangun kemampuan untuk pulih dari tekanan. Dalam dunia psikologi, ini sering disebut sebagai resiliensi. Dan kabar baiknya, resiliensi bisa dilatih dan dikembangkan.
Dr. Lahargo menyebutkan beberapa kebiasaan yang secara konsisten terbukti membantu menjaga keseimbangan fisik dan mental. Tidur yang cukup dan teratur menjadi fondasi penting, karena saat tidur tubuh melakukan proses pemulihan di berbagai tingkatan — termasuk regulasi hormonal. Aktivitas fisik rutin, bahkan yang ringan seperti jalan kaki 30 menit sehari, juga memiliki efek nyata pada penurunan kadar kortisol dan peningkatan mood.
Pola makan seimbang, menghindari rokok, serta membatasi konsumsi alkohol turut berkontribusi pada ketahanan tubuh terhadap stres. Tidak kalah penting, menjaga kualitas hubungan sosial — memiliki orang-orang yang bisa diajak bicara dan dipercaya — menjadi penyangga psikologis yang sangat berharga.
Teknik Praktis untuk Mengekspresikan Emosi Secara Sehat
Menyalurkan emosi tidak harus berarti curhat panjang lebar kepada semua orang. Ada banyak cara yang bisa disesuaikan dengan kepribadian dan kenyamanan masing-masing. Latihan pernapasan dalam atau teknik relaksasi otot progresif bisa membantu menenangkan sistem saraf yang terlalu aktif. Mindfulness — melatih diri untuk hadir penuh di momen ini tanpa menghakimi perasaan yang muncul — terbukti efektif menurunkan reaktivitas emosional dari waktu ke waktu.
Journaling atau menulis jurnal harian juga menjadi salah satu cara yang banyak direkomendasikan. Cukup luangkan 10-15 menit setiap hari untuk menulis apa yang kamu rasakan tanpa sensor. Prosesnya sendiri sudah membantu otak memproses emosi dengan cara yang lebih terstruktur. Dan tentu saja, berbicara dengan seseorang yang dipercaya — sahabat, pasangan, atau anggota keluarga — tetap menjadi salah satu cara paling ampuh untuk melepaskan beban psikologis.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Ada kondisi-kondisi tertentu yang menjadi tanda bahwa kamu perlu melangkah lebih jauh dari sekadar manajemen mandiri. Jika gangguan tidur sudah berlangsung berminggu-minggu, kecemasan atau kesedihan terasa begitu berat hingga mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, atau kamu merasa tidak mampu mengendalikan emosi sendiri — inilah saat yang tepat untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Psikolog atau psikiater bukan hanya untuk mereka yang “sudah parah”. Konsultasi dini justru jauh lebih efektif dan membantu mencegah kondisi memburuk. Anggap saja seperti periksa ke dokter saat baru merasa tidak enak badan — bukan menunggu sampai benar-benar jatuh sakit.
Pada akhirnya, memahami hubungan antara emosi dan kesehatan fisik adalah langkah pertama yang penting. Bukan untuk membuat kita paranoid setiap kali merasa sedih atau marah, tapi untuk mendorong kita lebih jujur dan perhatian terhadap kondisi diri sendiri. Mengelola emosi dengan sehat bukan tanda kelemahan — justru itu adalah salah satu bentuk kecerdasan dan kepedulian terbesar yang bisa kamu berikan pada dirimu sendiri.