Waspada! Kebiasaan Minum Teh atau Kopi Terlalu Panas Ternyata Bisa Picu Kanker Kerongkongan

Berita Terkini – Siapa sangka kebiasaan pagi yang tampak sepele — menyeruput secangkir kopi atau teh panas — ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja? Bagi banyak orang, menikmati minuman dalam kondisi panas mengepul adalah bagian dari ritual harian yang rasanya sulit dilepaskan. Namun, sebuah penelitian berskala besar baru-baru ini memberikan peringatan serius yang patut kita renungkan bersama.

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Cancer melibatkan lebih dari 977.000 partisipan dan menemukan bahwa kebiasaan minum minuman dalam kondisi “sangat panas” berkaitan erat dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan — lebih spesifiknya, karsinoma sel skuamosa esofagus (esophageal squamous cell carcinoma). Angkanya pun cukup mengejutkan: risiko meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan mereka yang memilih minum dalam suhu yang lebih hangat atau biasa.

Yang menarik, para peneliti menegaskan bahwa masalah utamanya bukan pada jenis minumannya — bukan berarti kopi atau teh itu sendiri yang berbahaya. Fokusnya ada pada suhu saat minuman tersebut dikonsumsi. Ini artinya, kebiasaan kecil seperti menunggu beberapa menit sebelum menyeruput minuman panas bisa menjadi langkah pencegahan yang sangat mudah dan praktis diterapkan siapa pun.

Apa yang Ditemukan dalam Penelitian Ini?

Penelitian ini dipimpin oleh Keren Papier, seorang ahli epidemiologi nutrisi senior di Oxford Population Health. Ia dan timnya membagi preferensi suhu minuman para peserta ke dalam beberapa kategori, kemudian menghubungkannya dengan kejadian kanker kerongkongan dalam jangka waktu tertentu.

Hasilnya cukup mengejutkan. Peserta yang menyukai minuman dalam kondisi sangat panas — sekitar 65 derajat Celsius atau setara 149 derajat Fahrenheit — memiliki risiko tiga kali lebih tinggi terkena karsinoma sel skuamosa esofagus dibandingkan mereka yang memilih minuman hangat. Sementara itu, mereka yang menyukai minuman panas (sekitar 60 derajat Celsius) masih memiliki risiko sekitar dua kali lipat lebih tinggi.

Papier juga menjelaskan bahwa kaitan antara minuman bersuhu tinggi dan kanker kerongkongan sebenarnya bukan hal baru dalam dunia riset. “Penelitian internasional telah menunjukkan selama beberapa waktu bahwa mengonsumsi minuman seperti mate dalam suhu yang sangat tinggi — seperti yang biasa dilakukan di Amerika Selatan — berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker esofagus,” ujarnya. Hanya saja, yang belum terlalu jelas sebelumnya adalah apakah pola yang sama juga berlaku untuk suhu minuman panas yang lazim dikonsumsi di negara-negara Barat. Dan penelitian ini menjawab pertanyaan itu.

Bukan Soal Jenis Minuman, tapi Soal Suhu

Salah satu temuan penting yang perlu dipahami adalah bahwa risiko kanker kerongkongan dalam penelitian ini tidak terkait dengan apakah seseorang minum kopi, teh, cokelat panas, atau minuman panas lainnya. Faktor penentu utamanya adalah seberapa panas minuman tersebut saat dikonsumsi.

Ini adalah poin krusial yang sering disalahpahami. Banyak orang langsung panik dan berpikir harus berhenti minum kopi atau teh. Padahal, solusinya jauh lebih sederhana: cukup tunggu minumanmu sedikit mendingin sebelum diminum.

Frekuensi Konsumsi Juga Berperan

Selain soal suhu, penelitian ini juga menemukan bahwa frekuensi minum minuman panas turut berkontribusi pada risiko. Peserta yang mengonsumsi enam cangkir atau lebih per hari memiliki risiko 71 persen lebih tinggi mengalami karsinoma sel skuamosa esofagus — bahkan terlepas dari apakah mereka memilih minuman panas atau sangat panas.

Artinya, dua faktor ini — suhu dan frekuensi — bekerja secara bersamaan dalam membentuk risiko. Jika kamu termasuk orang yang minum banyak cangkir minuman panas setiap harinya, kombinasi keduanya bisa meningkatkan risiko secara signifikan. Ini bukan berarti kamu harus drastis memangkas konsumsi kafein, tapi setidaknya jadi bahan pertimbangan untuk lebih bijak dalam pola minum sehari-hari.

Catatan Penting soal Metode Penelitian

Satu hal yang perlu dicatat secara jujur adalah bahwa suhu dalam penelitian ini tidak diukur secara langsung dengan termometer. Data diperoleh berdasarkan laporan mandiri dari peserta mengenai preferensi suhu minuman mereka. Ini artinya ada kemungkinan persepsi “panas” antar individu sedikit berbeda. Meski demikian, skala penelitian yang sangat besar — hampir satu juta orang — membuat temuan ini tetap cukup kuat untuk dijadikan referensi ilmiah.

Mengapa Minuman Panas Bisa Merusak Kerongkongan?

Secara biologis, ada penjelasan yang masuk akal di balik temuan ini. Para peneliti mengajukan teori yang disebut thermal injury atau cedera akibat panas. Ketika kerongkongan terpapar suhu tinggi secara berulang, jaringan di dalamnya mengalami kerusakan mikro yang terus-menerus.

Menurut data dari National Library of Medicine, cedera panas berulang seperti ini dapat memicu peradangan kronis pada lapisan kerongkongan. Dan seperti yang sudah banyak diketahui dalam ilmu onkologi, peradangan kronis adalah salah satu lingkungan paling kondusif bagi pertumbuhan sel kanker. Tidak hanya itu, panas juga diduga dapat merusak lapisan pelindung alami kerongkongan, sehingga jaringan menjadi lebih rentan terhadap zat-zat karsinogen yang mungkin masuk bersama makanan atau minuman lain.

Bayangkan seperti ini: jika kamu menyiramkan air panas ke permukaan yang halus berulang kali setiap hari, lama-kelamaan permukaannya akan rusak dan retak. Hal serupa terjadi pada lapisan mukosa kerongkongan ketika terpapar panas secara konsisten dalam jangka panjang.

Risiko Berlipat Ganda dengan Faktor Lain

Risiko kanker kerongkongan akibat minuman panas tidak berdiri sendiri. Kombinasinya dengan faktor risiko lain — terutama kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol — dapat membuat potensi bahayanya berlipat ganda. Rokok dan alkohol sudah lama dikenal sebagai faktor risiko utama kanker esofagus. Ketika ditambah dengan kebiasaan minum minuman sangat panas, efeknya bisa saling memperkuat satu sama lain.

Langkah Praktis yang Bisa Langsung Kamu Terapkan

Kabar baiknya, ada banyak hal sederhana yang bisa segera kamu lakukan untuk mengurangi risiko ini. Tidak perlu perubahan drastis, cukup kebiasaan kecil yang konsisten.

1. Tunggu Minumanmu Mendingin Sebelum Diminum

Ini adalah langkah paling mudah dan paling langsung. Setelah menyeduh kopi atau teh, tunggu 5–10 menit sebelum mulai minum. Suhu minuman akan turun secara alami ke kisaran yang lebih aman, tanpa perlu alat ukur apa pun. Jika ingin lebih presisi, suhu di bawah 60 derajat Celsius dianggap jauh lebih aman berdasarkan temuan penelitian ini.

2. Kurangi Frekuensi Jika Berlebihan

Jika kamu terbiasa minum lebih dari enam cangkir minuman panas per hari, pertimbangkan untuk sedikit menguranginya. Mengganti beberapa cangkir dengan minuman suhu ruang atau dingin bisa menjadi pilihan yang sehat.

3. Hindari Rokok dan Batasi Alkohol

Fiona Osgun, kepala informasi kesehatan di Cancer Research UK, menegaskan hal ini dengan tegas: “Cara paling penting untuk mengurangi risiko jenis kanker ini adalah tidak merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.” Jadi, meski mendinginkan minuman itu penting, menjauhi rokok dan alkohol tetap menjadi prioritas utama dalam pencegahan kanker kerongkongan secara keseluruhan.

4. Perhatikan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Kanker kerongkongan sering kali tidak menimbulkan gejala yang kentara di tahap awal. Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesulitan menelan, rasa tidak nyaman atau nyeri di dada, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta suara serak yang menetap. Jika mengalami gejala-gejala ini, segera konsultasikan ke dokter.

Perspektif yang Seimbang: Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada

Penelitian ini bukan dimaksudkan untuk membuat orang takut minum kopi atau teh. Minuman-minuman itu sendiri, dalam suhu yang tepat, bahkan memiliki berbagai manfaat kesehatan yang sudah banyak diteliti. Pesan utamanya sederhana: cara kita mengonsumsi minuman, termasuk suhunya, sama pentingnya dengan apa yang kita konsumsi.

Dunia medis dan ilmu gizi semakin memahami bahwa kanker bukan hasil dari satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai kebiasaan dan paparan dalam jangka panjang. Maka dari itu, pendekatan terbaik adalah menjaga keseimbangan — menikmati minuman favorit tanpa harus buru-buru, dan tetap menjaga gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Mulai hari ini, cobalah satu kebiasaan kecil: taruh cangkir kopi atau tehmu sebentar, nikmati aromanya terlebih dahulu, lalu minum ketika sudah terasa lebih nyaman di lidah. Kebiasaan sederhana itu, jika dilakukan konsisten setiap hari, bisa menjadi salah satu investasi kecil namun berarti untuk kesehatan kerongkonganmu di masa depan. Apakah kamu siap mengubah satu kebiasaan kecil demi kesehatan yang lebih baik?

By admin