Dari Semrawut ke Rapi: Inilah Cara Tangsel Memindahkan Kabel Udara ke Bawah Tanah Tanpa Pakai APBD

Berita Terkini – Pernah tidak, kamu berjalan di pinggir jalan dan tiba-tiba mendongak ke atas, lalu melihat tumpukan kabel yang melilit tiang seperti benang kusut yang tak berujung? Pemandangan seperti itu dulu sangat lazim ditemui di banyak ruas jalan kota, termasuk di Jalan WR Supratman dan Jalan Merpati Raya, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kabel-kabel telekomunikasi yang bertumpuk di atas tiang utilitas itu bukan hanya mengganggu pemandangan, tapi juga menyimpan potensi bahaya yang sering kali luput dari perhatian.

Namun kini, pemandangan tersebut sudah berubah drastis. Langit di sepanjang kedua ruas jalan itu tampak lebih lapang, bersih, dan lega. Tidak ada lagi gulungan kabel yang menjuntai atau melilit tiang secara tak beraturan. Koridor jalan pun terasa lebih tertata dan nyaman, baik bagi pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. Perubahan ini bukan kebetulan — ini adalah hasil kerja nyata dari sebuah program penataan infrastruktur yang sudah dijalankan sejak tahun 2022.

Program yang dimaksud adalah relokasi kabel utilitas telekomunikasi dari atas tiang ke bawah tanah, yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi atau APJATEL. Bagi kamu yang penasaran bagaimana program ini berjalan, siapa yang menanggung biayanya, dan ke mana arah pengembangannya — artikel ini akan menjelaskan semuanya dari awal.

Mengapa Kabel Udara Jadi Masalah Serius?

Sebelum masuk ke detail program, penting untuk memahami dulu mengapa keberadaan kabel udara yang semrawut itu dianggap sebagai masalah serius, bukan sekadar soal estetika.

Pertama, dari sisi keselamatan. Kabel yang tergantung rendah atau terurai di jalanan bisa menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor dan pejalan kaki. Ada banyak insiden di berbagai kota di Indonesia di mana kabel yang menjuntai menyebabkan kecelakaan. Ini bukan cerita fiksi — ini kejadian nyata yang pernah melukai orang.

Kedua, dari sisi estetika dan citra kota. Kota yang rapi dan tertata mencerminkan kualitas pengelolaan pemerintahan. Kabel yang semrawut di mana-mana memberikan kesan bahwa infrastruktur tidak diurus dengan baik, yang pada akhirnya juga mempengaruhi daya tarik investasi dan pariwisata.

Ketiga, dari sisi pemeliharaan jaringan itu sendiri. Kabel yang bertumpuk di udara lebih rentan terhadap gangguan cuaca — angin kencang, hujan deras, atau petir. Proses identifikasi dan perbaikan kabel yang rusak pun jauh lebih sulit ketika semuanya tercampur aduk di satu tiang. Sebaliknya, kabel yang tertanam dalam ducting bawah tanah jauh lebih mudah diidentifikasi, dipantau, dan diperbaiki bila ada gangguan.

Program Relokasi Kabel: Dimulai dari Mana dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Program relokasi kabel utilitas telekomunikasi ke bawah tanah di Tangsel dimulai secara resmi pada tahun 2022. Ini bukan proyek yang dikerjakan dalam semalam. Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangsel, Robbi Cahyadi, menjelaskan bahwa prosesnya sangat kompleks karena melibatkan banyak operator telekomunikasi yang masing-masing memiliki infrastruktur dan tingkat kesiapan jaringan yang berbeda-beda.

“Relokasi kabel utilitas bukan pekerjaan yang selesai dalam hitungan hari. Sejak awal tahun 2022 kami bersama APJATEL melakukan koordinasi secara intensif, mulai dari perencanaan, pembangunan ducting, hingga proses pemindahan kabel milik masing-masing operator,” jelas Robbi.

Secara teknis, proses relokasi ini melibatkan beberapa tahapan besar. Pertama adalah fase perencanaan dan survei rute, di mana ditentukan jalur mana yang akan diprioritaskan dan bagaimana desain jalur ducting bawah tanahnya. Setelah itu, masuk ke fase pembangunan saluran ducting menggunakan metode yang disebut horizontal directional drilling atau HDD — yaitu teknik pengeboran terarah yang dilakukan tanpa harus membongkar seluruh permukaan jalan secara masif. Metode ini lebih efisien dan minim gangguan dibanding metode galian terbuka konvensional.

Selanjutnya, kabel-kabel dari masing-masing operator dialirkan ke dalam pipa HDPE (high-density polyethylene) yang sudah terpasang di dalam tanah. Pemutusan kabel udara lama baru dilakukan setelah dipastikan jaringan bawah tanah berfungsi dengan normal — jadi layanan telekomunikasi tidak terputus selama proses transisi.

Tidak Menggunakan APBD: Lalu Siapa yang Bayar?

Ini adalah bagian yang menarik dan sering membuat orang bertanya-tanya. Program sebesar ini — yang mencakup pengeboran, pemasangan pipa HDPE, hingga pemindahan ribuan meter kabel — ternyata tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tangsel.

Robbi menjelaskan bahwa pembangunan saluran ducting dilakukan oleh kontraktor yang ditunjuk langsung oleh APJATEL. Artinya, biaya infrastruktur ditanggung oleh pihak industri telekomunikasi itu sendiri, bukan dari kantong pajak warga. Pemerintah kota berperan sebagai fasilitator, regulator, dan koordinator — memastikan proses berjalan sesuai aturan dan tidak mengganggu layanan publik.

Model kolaborasi seperti ini sebenarnya cukup ideal. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran besar, sementara operator telekomunikasi mendapatkan infrastruktur yang lebih aman dan mudah dipelihara. Warga pun menikmati hasilnya secara langsung. Semua pihak diuntungkan.

Ruas Jalan Mana Saja yang Sudah Ditata?

Hingga pertengahan tahun 2026, setidaknya sembilan ruas jalan di Kota Tangerang Selatan sudah berhasil ditata menggunakan metode HDD. Berikut daftar ruas jalan yang sudah atau sedang dalam proses penataan kabel bawah tanah:

Jalan Ciater Raya, Jalan Parakan-Benda, Jalan Serua Raya, Jalan Cendrawasih Raya, Jalan Bhayangkara, Jalan Menjangan Raya, Jalan Merpati Raya, dan sebagian koridor Jalan WR Supratman sudah masuk dalam daftar yang telah selesai atau hampir selesai digarap. Sementara itu, sejumlah ruas jalan lain masih berada dalam berbagai tahapan pengerjaan — ada yang sedang dalam proses penarikan kabel, ada yang sedang memasang jaringan HDPE, dan ada pula yang masih dalam tahap survei dan perencanaan awal.

Jalan WR Supratman dan Merpati Raya: Contoh Nyata Hasilnya

Jalan WR Supratman dan Jalan Merpati Raya menjadi dua contoh paling konkret dari keberhasilan program ini. Sebelum penataan, kedua ruas jalan ini terkenal dengan pemandangan kabel yang semrawut dan mengganggu. Kini, keduanya tampil dengan wajah baru — lebih bersih, lebih lega, dan lebih aman.

Menurut Robbi, perubahan ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah kota dan pelaku industri telekomunikasi bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas. “Penataan utilitas bukan sekadar membuat jalan terlihat lebih indah. Yang jauh lebih penting adalah meningkatkan keselamatan masyarakat, mempermudah pemeliharaan jaringan, sekaligus mendukung pembangunan kota yang lebih modern dan berkelanjutan,” tegasnya.

Apa Rencana ke Depan untuk Penataan Utilitas di Tangsel?

Program ini jelas tidak berhenti di sini. Pemerintah Kota Tangsel menargetkan penataan jaringan utilitas akan terus berlanjut ke sejumlah koridor jalan utama lainnya secara bertahap. Target akhirnya adalah agar seluruh jaringan telekomunikasi di wilayah Tangsel bisa tertata dengan rapi dan berada di bawah tanah — tidak ada lagi kabel semrawut yang menggantung di langit kota.

Robbi juga mengakui bahwa selama proses pembangunan, masyarakat sempat merasakan gangguan lalu lintas akibat aktivitas penggalian dan pengeboran di beberapa titik. Ini memang menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari ketika membangun infrastruktur bawah tanah di area perkotaan yang padat.

“Kami memahami selama proses pembangunan masyarakat sempat merasa terganggu. Namun setelah selesai, manfaatnya bisa dirasakan bersama. Karena itu kami mengajak masyarakat ikut menjaga fasilitas yang sudah dibangun agar Tangsel semakin nyaman, aman, dan memiliki wajah kota yang lebih tertata,” pungkas Robbi.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Program Ini?

Program relokasi kabel bawah tanah di Tangsel sebenarnya bisa menjadi model yang relevan untuk diterapkan di kota-kota lain di Indonesia. Ada beberapa poin penting yang bisa dipetik dari pengalaman ini.

Pertama, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta bisa menghasilkan solusi infrastruktur yang berkelanjutan tanpa membebani anggaran publik. Kedua, penataan infrastruktur perkotaan harus dilakukan secara menyeluruh dan terencana — bukan tambal sulam yang hanya menyelesaikan masalah di permukaan. Ketiga, komunikasi dengan masyarakat selama proses pembangunan sangat penting agar tidak menimbulkan resistensi yang tidak perlu.

Terakhir, program seperti ini membutuhkan kesabaran dari semua pihak. Proses yang memakan waktu bertahun-tahun memang terasa lama, tapi hasilnya — seperti yang kini bisa dilihat di Jalan WR Supratman dan Jalan Merpati Raya — jauh lebih memuaskan dibanding solusi cepat yang asal-asalan.

Melihat transformasi yang terjadi di Tangsel, wajar jika kita bertanya: kapan kota atau daerahmu melakukan hal yang sama? Kabel semrawut di atas kepala kita bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Dengan perencanaan yang matang, kolaborasi yang tepat, dan komitmen jangka panjang, wajah infrastruktur kota kita bisa berubah menjadi jauh lebih baik — dan itu dimulai dari keberanian untuk bertindak.

By admin