Beritaterkini.co.id – Pasar energi global kembali terguncang kali ini oleh berita yang berlawanan arah dari hari-hari sebelumnya. Pada Selasa, 10 Maret 2026, harga minyak dunia anjlok lebih dari 11 persen dalam satu sesi perdagangan, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak Maret 2022. Ironinya, penurunan dramatis ini terjadi tepat sehari setelah harga minyak menyentuh level tertinggi dalam empat tahun.
Kontrak minyak Brent turun US$11,16 atau sekitar 11 persen menjadi US$87,80 per barel. Sementara WTI merosot US$11,32 atau 11,9 persen ke level US$83,45 per barel. Untuk konteks yang lebih dramatis: pada Senin sebelumnya, Brent sempat melonjak di atas US$119 per barel level tertinggi sejak Juni 2022. Dalam waktu kurang dari 48 jam, harga minyak bergerak lebih dari 30 dolar per barel ke dua arah yang berlawanan.
Pemicunya bukan data ekonomi, bukan keputusan OPEC, bukan pula perubahan fundamental dalam pasokan global. Pemicunya adalah sesuatu yang jauh lebih tidak pasti dan tidak bisa dimodelkan oleh algoritma trading manapun: sinyal politik bahwa perang antara AS-Israel dan Iran mungkin segera berakhir.
Rangkaian Peristiwa yang Membalikkan Harga dalam Hitungan Jam
Trump-Putin Bicara, Pasar Langsung Bereaksi
Benih dari penurunan harga Selasa ini sebenarnya sudah ditanam pada Senin sebelumnya, ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan telepon yang membahas proposal penyelesaian cepat perang dengan Iran. Keterlibatan Putin sebagai mediator potensial adalah sinyal diplomatik yang tidak kecil Rusia memiliki jalur komunikasi dengan Teheran yang tidak dimiliki Washington, dan kehadiran Moskow dalam diskusi ini membuka kemungkinan de-eskalasi yang sebelumnya terlihat mustahil.
Trump kemudian memperkuat sentimen ini dengan pernyataannya kepada CBS News bahwa operasi militer terhadap Iran sudah hampir selesai dan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal empat hingga lima minggu. Pasar membaca dua sinyal ini sebagai kemungkinan nyata bahwa Selat Hormuz yang sudah tertutup sejak 28 Februari bisa kembali dibuka lebih cepat dari yang diperkirakan.
Menteri Energi AS Posting soal Selat Hormuz, Harga Langsung Anjlok Lebih Dalam
Di tengah sesi perdagangan Selasa, penurunan harga sempat bertambah dalam setelah Menteri Energi AS Chris Wright menulis di media sosial bahwa militer AS membantu pengiriman minyak keluar dari Selat Hormuz menyebut Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker agar minyak tetap mengalir ke pasar global.
Pasar bereaksi langsung dan tajam terhadap unggahan itu. Tapi kemudian unggahan tersebut tampak dihapus sebuah langkah yang menambah lapisan ketidakpastian baru. Apakah informasinya tidak akurat? Apakah terlalu dini untuk diumumkan? Tidak ada klarifikasi resmi yang diberikan.
Meski begitu, analis Lipow Oil Associates Andrew Lipow menegaskan bahwa pasar sudah terlanjur merespons kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sentimen itu tidak bisa ditarik kembali begitu saja hanya karena unggahannya dihapus.
Israel Buka Suara: Tidak Menginginkan Perang Tanpa Akhir
Faktor ketiga yang memperkuat tren penurunan adalah pernyataan Menteri Luar Negeri Israel yang menyatakan negaranya tidak menginginkan perang tanpa akhir dengan Iran dan akan berkoordinasi dengan AS mengenai waktu penghentian pertempuran. Ini adalah pernyataan paling eksplisit dari pihak Israel soal keinginan untuk mengakhiri konflik dan bagi pasar yang selama ini berspekulasi tentang eskalasi tanpa batas, sinyal ini sangat berarti.
Dimensi Politik di Balik Harga Minyak yang Turun
Turunnya Harga Energi Menguntungkan Trump Secara Politis
Penurunan harga minyak bukan hanya kabar baik bagi konsumen global bagi pemerintahan Trump, ini juga memiliki nilai politik yang signifikan. Analis pasar mencatat bahwa dari sisi pemerintah AS, turunnya harga minyak dinilai memiliki dampak politik karena harga energi yang lebih rendah dapat meredakan kekhawatiran konsumen Amerika yang sudah mulai merasakan efek dari lonjakan harga bahan bakar akibat konflik.
Dalam konteks politik domestik AS, harga bensin di pompa adalah salah satu indikator ekonomi yang paling langsung dirasakan oleh pemilih. Setiap penurunan harga minyak global yang cukup signifikan berpotensi diterjemahkan menjadi poin politik bagi siapapun yang ada di Gedung Putih.
Proyeksi EIA: Masih di Atas US$95 dalam Dua Bulan, Lalu Turun ke US$70
Angka yang Memberikan Gambaran Jangka Menengah
Di tengah volatilitas harian yang ekstrem ini, Energy Information Administration (EIA) AS memberikan proyeksi yang lebih terukur dalam laporan bulanan terbarunya. EIA memperkirakan harga minyak Brent akan tetap di atas US$95 per barel dalam dua bulan ke depan akibat gangguan pasokan dari konflik Iran yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Namun dalam skenario de-eskalasi yang berlanjut, EIA memproyeksikan harga bisa turun hingga sekitar US$70 per barel pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa meski volatilitas jangka pendek akan terus berlanjut, pasar minyak pada akhirnya akan menemukan keseimbangannya kembali seiring meredanya konflik.
Bagi Indonesia, proyeksi ini punya implikasi langsung. Jika harga Brent memang bertahan di atas US$95 selama dua bulan ke depan sebelum kemudian turun, tekanan pada APBN dari subsidi BBM masih akan terasa cukup berat setidaknya hingga pertengahan 2026 periode yang bertepatan dengan masa-masa paling kritis dalam siklus fiskal pemerintah.
Volatilitas yang Belum Usai
Penurunan 11 persen dalam satu hari setelah kenaikan ke level tertinggi empat tahun adalah pengingat paling telak tentang betapa rapuhnya pasar energi global saat ini. Harga minyak tidak bergerak berdasarkan fundamental pasokan dan permintaan semata ia bergerak mengikuti setiap tweet, setiap pernyataan menteri, setiap laporan dari medan perang.
Selama perang belum benar-benar berakhir dan Selat Hormuz belum resmi dinyatakan aman untuk dilintasi, volatilitas ekstrem ini akan terus menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh pasar, pemerintah, dan konsumen di seluruh dunia termasuk Indonesia yang sudah merasakan sendiri dampaknya dalam tekanan pada rupiah, APBN, dan harga kebutuhan sehari-hari.