Beritaterkini – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kembali memperbarui Harga Batubara Acuan (HBA) untuk periode kedua Februari 2026. Dalam penetapan terbaru, seluruh kategori kalori batubara tercatat mengalami penurunan harga dibandingkan periode pertama bulan yang sama.
Koreksi ini tertuang dalam keputusan resmi yang ditandatangani Menteri ESDM pada pertengahan Februari 2026. Penurunan HBA dinilai sejalan dengan dinamika harga batubara global yang masih fluktuatif, sekaligus mencerminkan penyesuaian terhadap rata-rata transaksi penjualan batubara Indonesia.
Bagi pelaku usaha pertambangan, pembangkit listrik, hingga industri pengguna batubara, perubahan HBA menjadi acuan penting karena berpengaruh pada perhitungan royalti, kontrak penjualan, dan strategi bisnis jangka pendek.
HBA Periode Kedua Februari 2026 Turun di Semua Kalori
Bahlil Lahadalia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan Harga Batubara Acuan untuk periode kedua Februari 2026 dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 97.K/MB.01/MEM.B/2026. Aturan tersebut ditandatangani pada 12 Februari 2026 dan langsung berlaku untuk transaksi yang menggunakan HBA sebagai referensi.
Untuk batubara kalori tinggi dengan kesetaraan 6.322 kcal/kg GAR, harga dipatok sebesar USD102,87 per ton. Nilai ini turun dari periode pertama Februari 2026 yang sebelumnya berada di USD106,11 per ton.
Penurunan juga terjadi pada kategori kalori menengah dan rendah, dengan rincian sebagai berikut:
Rincian HBA Februari II 2026
- HBA 6.322 kcal/kg GAR: USD102,87 per ton
- HBA I 5.300 kcal/kg GAR: USD71,74 per ton
- HBA II 4.100 kcal/kg GAR: USD47,34 per ton
- HBA III 3.400 kcal/kg GAR: USD33,85 per ton
Semua kategori tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan periode pertama Februari 2026. Penurunan terbesar terjadi pada kalori tinggi, sementara kategori kalori rendah mengalami koreksi lebih tipis.
Mekanisme Penetapan HBA oleh Pemerintah
Penetapan HBA mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 72 Tahun 2025 tentang pedoman harga patokan penjualan komoditas mineral logam dan batubara. Dalam regulasi tersebut, HBA dibagi menjadi empat kategori berdasarkan kesetaraan nilai kalori.
Empat Jenis HBA Berdasarkan Kalori
- HBA (6.322 kcal/kg GAR)
- HBA I (5.300 kcal/kg GAR)
- HBA II (4.100 kcal/kg GAR)
- HBA III (3.400 kcal/kg GAR)
Nilai HBA periode kedua dihitung menggunakan rata-rata tertimbang volume harga jual batubara pada titik serah. Perhitungan ini didasarkan pada data transaksi penjualan yang digunakan untuk pembayaran royalti melalui aplikasi ePNBP Minerba.
Rentang data yang dipakai mencakup transaksi pengapalan pada minggu kedua dua bulan sebelumnya hingga minggu pertama bulan sebelumnya. Metode ini dimaksudkan untuk mencerminkan harga pasar yang lebih aktual.
Faktor Penurunan Harga Batubara
Koreksi HBA pada Februari 2026 tidak lepas dari kondisi pasar global. Sejumlah analis energi menilai harga batubara dunia masih tertekan oleh kombinasi faktor, seperti:
Permintaan Global yang Fluktuatif
Permintaan dari beberapa negara importir utama cenderung stabil, namun belum menunjukkan lonjakan signifikan. Hal ini membuat harga batubara bergerak moderat.
Pasokan yang Relatif Terjaga
Produksi batubara dari negara produsen besar, termasuk Indonesia dan Australia, masih berada pada level yang cukup tinggi sehingga menahan kenaikan harga.
Penyesuaian Kontrak dan Royalti
HBA berperan sebagai referensi perhitungan royalti dan harga jual untuk kontrak tertentu. Saat harga global melemah, penyesuaian HBA menjadi hal yang tidak terhindarkan.
Kementerian ESDM sebelumnya menegaskan bahwa HBA disusun untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan negara, pelaku usaha, dan stabilitas pasar energi domestik.
Dampak bagi Industri dan Penerimaan Negara
Penurunan HBA berpotensi memengaruhi beberapa sektor:
Bagi Perusahaan Tambang
Harga acuan yang lebih rendah dapat berdampak pada pendapatan penjualan, terutama untuk kontrak yang menggunakan HBA sebagai referensi utama.
Bagi PLN dan Industri
Di sisi lain, harga batubara yang lebih rendah bisa membantu menekan biaya produksi listrik dan industri berbasis energi batubara.
Bagi Penerimaan Negara
Royalti batubara dihitung berdasarkan harga acuan. Ketika HBA turun, potensi penerimaan negara dari sektor ini juga bisa ikut terpengaruh, meski tetap bergantung pada volume produksi dan ekspor.
Prospek Harga Batubara ke Depan
Pengamat energi menilai pergerakan HBA ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan energi negara importir, serta dinamika produksi dalam negeri. Pemerintah juga terus memantau tren harga untuk menjaga stabilitas sektor pertambangan dan energi nasional.
Dengan adanya pembaruan HBA setiap bulan dan periode tertentu, pelaku industri diharapkan dapat menyesuaikan strategi bisnis dan kontrak penjualan secara lebih adaptif.