Beritaterkini.co.idJakarta baru saja meraih pencapaian yang cukup membanggakan. Di tengah persaingan kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara, ibu kota Indonesia ini berhasil menyabet predikat kota teraman kedua di ASEAN versi Global Residence Index tahun 2026. Sebuah pengakuan internasional yang tentu membuat banyak warga Jakarta merasa bangga — sekaligus sedikit bertanya-tanya.

Pasalnya, hampir bersamaan dengan pengumuman prestasi tersebut, sebuah video viral muncul di media sosial dan langsung menuai perhatian luas. Seorang pedagang bakso di kawasan Tanah Abang, Jakarta, menjadi korban pemalakan. Bukan hanya dimintai uang paksa, mangkuk-mangkuk dagangannya pun ikut dirusak oleh pelaku. Ironi yang cukup menyentil di tengah predikat “kota teraman” yang baru saja disematkan.

Namun alih-alih berdiam diri, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo langsung bergerak cepat. Tidak ada pembiaran, tidak ada sikap menunggu. Respons yang diberikan justru menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah daerah seharusnya menanggapi kasus premanisme Jakarta yang menyasar masyarakat kecil.

Jakarta Kota Teraman Kedua di ASEAN: Prestasi atau Kebetulan?

Penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara bukan datang dari klaim sepihak pemerintah. Ini adalah hasil survei independen dari Global Residence Index — sebuah lembaga yang secara rutin mengevaluasi kondisi kota-kota besar di seluruh dunia berdasarkan berbagai indikator, termasuk tingkat kriminalitas, stabilitas sosial, dan efektivitas penegakan hukum.

Dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa di dalam batas kota, dan hampir 42 juta jiwa jika dihitung bersama kawasan aglomerasinya berdasarkan data PBB, Jakarta jelas bukan kota yang mudah dikelola. Kompleksitas sosial, kesenjangan ekonomi, dan kepadatan penduduk yang ekstrem menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Prestasi yang Tidak Boleh Membuat Lengah

Gubernur Pramono Anung sendiri menyikapi pencapaian ini dengan kepala dingin. Ia tidak menyangkal bahwa predikat tersebut merupakan kabar baik, namun juga tidak mau terlena. Baginya, satu insiden premanisme pun sudah cukup menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah menjaga keamanan kota belum selesai — dan tidak akan pernah selesai jika pemerintah bersikap puas diri.

Inilah yang membedakan sikap seorang pemimpin kota yang benar-benar peduli dengan warganya: bukan merayakan angka di atas kertas, tapi memastikan bahwa keamanan itu benar-benar dirasakan sampai ke lapisan masyarakat paling bawah — termasuk para pedagang kaki lima dan pelaku usaha kecil yang sering kali menjadi sasaran empuk aksi premanisme.

Kasus Viral: Pedagang Bakso Tanah Abang Jadi Korban Premanisme

Pada Jumat, 9 April 2026, sebuah video singkat tersebar luas di berbagai platform media sosial. Isinya memperlihatkan seorang pedagang bakso di kawasan Tanah Abang yang diperlakukan sewenang-wenang oleh sekelompok orang. Pelaku tidak hanya meminta uang secara paksa, tetapi juga merusak perlengkapan dagang korban — termasuk memecahkan mangkuk-mangkuk milik pedagang tersebut.

Video itu cepat sekali menyebar dan memantik reaksi keras dari netizen. Banyak yang geram, banyak yang mempertanyakan di mana aparat saat kejadian berlangsung. Kasus ini seolah menjadi cermin bagi kondisi nyata keamanan di lapangan yang kadang berbeda dengan data statistik.

Gubernur Pramono Langsung Telepon Kepala Satpol PP

Yang menarik dari kasus ini adalah kecepatan respons dari orang nomor satu di DKI Jakarta. Gubernur Pramono Anung mengaku langsung menghubungi Kepala Dinas Satpol PP begitu laporan masuk ke tangannya. Tidak ada jeda panjang, tidak ada rapat koordinasi yang berlarut-larut.

Hasilnya, pelaku premanisme yang memecahkan mangkuk dan melakukan pemalakan tersebut berhasil diamankan dan langsung ditahan. Pramono menyampaikan hal ini secara terbuka di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu 11 April 2026.

Tindakan cepat ini bukan sekadar pencitraan. Ini adalah sinyal jelas bahwa premanisme Jakarta tidak akan diberi ruang, sekecil apa pun bentuknya.

Tidak Ada Toleransi untuk Premanisme dalam Bentuk Apa Pun

Dalam pernyataannya, Pramono Anung menegaskan satu hal yang sangat penting: tidak ada toleransi terhadap premanisme, dalam bentuk apa pun dan menyasar siapa pun. Pedagang kecil, pedagang kaki lima, pelaku usaha informal — mereka semua berhak mendapat perlindungan yang sama dari negara.

Premanisme Jakarta memang bukan masalah baru. Sudah sejak lama praktik pemalakan, pungli, dan intimidasi terhadap pedagang kecil menjadi momok yang sulit diberantas tuntas. Tapi sikap tegas seperti yang ditunjukkan Pramono setidaknya memberikan harapan bahwa ada pemimpin yang mau bergerak lebih dari sekadar bicara.

Pengawasan di Titik-Titik Rawan Akan Diperketat

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan di lokasi-lokasi yang selama ini dikenal rawan tindak premanisme. Kawasan perdagangan padat seperti Tanah Abang, Manggarai, hingga berbagai pasar tradisional lainnya akan mendapat perhatian lebih dari aparat.

Selain itu, sistem pelaporan dari masyarakat juga akan terus ditingkatkan agar warga bisa dengan mudah melaporkan kejadian yang mencurigakan atau meresahkan. Kecepatan respons aparat terhadap laporan warga dinilai sebagai kunci utama dalam menciptakan rasa aman yang nyata — bukan hanya aman di atas kertas.

Peran Warga dalam Memberantas Premanisme Jakarta

Pramono Anung juga mengingatkan bahwa menjaga keamanan kota bukan hanya tugas pemerintah atau aparat penegak hukum semata. Warga punya peran yang sama pentingnya. Dengan aktif melapor, tidak membiarkan tindak intimidasi terjadi di depan mata, dan tidak segan menyebarkan informasi yang benar, masyarakat bisa menjadi garda terdepan dalam melawan premanisme.

Kolaborasi antara pemerintah dan warga inilah yang pada akhirnya akan menentukan apakah Jakarta benar-benar layak menyandang predikat kota teraman — bukan hanya dalam survei global, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari warganya yang paling sederhana sekalipun.

Jakarta boleh bangga dengan peringkatnya. Tapi kebanggaan sejati bukan soal angka — melainkan soal apakah seorang pedagang bakso di Tanah Abang bisa berjualan dengan tenang tanpa takut dipalak. Kalau itu sudah tercapai, barulah kita boleh benar-benar berbangga. Ikuti terus perkembangan isu keamanan dan kebijakan Jakarta lainnya di sini.

By admin