Beritaterkini – Pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 kini tidak hanya soal gedung atau infrastruktur, tapi juga menekankan pertumbuhan ekonomi dan sosial yang merata bagi masyarakat sekitar, khususnya di pesisir Kabupaten Tangerang.
Direktur Estate Management Agung Sedayu Group, Restu Mahesa, menjelaskan Kamis (5/2/2026) bahwa pembangunan PIK 2 mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pendekatan ini dirancang agar pembangunan kawasan selaras dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial.
“Dari PIK 2, kami ingin mendorong pertumbuhan seimbang dalam empat aspek kehidupan masyarakat, terutama dengan penguatan UMKM lokal agar bisa tumbuh bersama kawasan,” jelas Restu.
UMKM Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Kawasan
Salah satu fokus utama PIK 2 adalah memberdayakan UMKM lokal. Dengan keterlibatan UMKM dalam penyediaan layanan, konsumsi rapat, katering, percetakan souvenir, hingga jasa kebersihan, kawasan ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan.
Pendampingan dan Kemitraan Berkelanjutan
Restu menegaskan, UMKM bukan sekadar pelengkap. Mereka ditempatkan sebagai bagian penting dalam rantai nilai kawasan, didampingi secara berkelanjutan agar bisa naik kelas seiring perkembangan PIK 2.
“Pendekatan kami transparan, inklusif, dan berbasis kinerja. Kami juga memastikan standar kualitas dan keberlanjutan usaha tetap terjaga,” tambahnya.
Contohnya, produk kerajinan berbahan limbah kayu dari Sungai Cisadane kini memiliki nilai ekonomi setelah melalui pelatihan dan pendampingan. Praktik seperti ini sekaligus menumbuhkan ekonomi sirkular dan mendorong masyarakat lebih kreatif memanfaatkan sumber daya lokal.
Aspek Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Selain aspek sosial, PIK 2 juga mengedepankan keberlanjutan lingkungan. UMKM diarahkan menggunakan kemasan ramah lingkungan, mengurangi limbah, dan memaksimalkan bahan baku lokal.
Pendekatan ini, menurut Restu, bertujuan menekan jejak karbon dari produksi maupun distribusi dan sekaligus mendorong praktik ekonomi sirkular di kawasan.
“Lingkungan dan ekonomi harus berjalan beriringan. Jika UMKM sehat dan lingkungan terjaga, maka pertumbuhan kawasan juga berkelanjutan,” jelasnya.
Serapan Tenaga Kerja dan Dampak Ekonomi
Dari sisi tenaga kerja, PIK 2 tercatat menyerap sekitar 251 ribu tenaga kerja lokal sejak 2021 hingga 2025. Angka ini mencakup sektor konstruksi, perhotelan, ritel, kuliner, hingga sektor informal yang mendukung UMKM.
Selain itu, berbagai program pelatihan seperti teknisi AC dan tenaga kerja siap pakai dijalankan melalui aplikasi kerja sama dengan Pemkab Tangerang dan Pemprov Banten, memastikan masyarakat setempat memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Program CSR dan Dukungan Ekonomi Desa
Dalam rangka mendukung pemerintah dan memperkuat ekonomi desa, PIK 2 juga menyalurkan bantuan kepada 274 koperasi desa dan kelurahan di Kabupaten Tangerang dengan total nilai Rp27,4 miliar. Program ini mencakup pelatihan, modal usaha, hingga penguatan manajemen koperasi.
Tak hanya itu, PIK 2 bekerja sama dengan kelompok swadaya masyarakat (KSM) dalam menangani abrasi, memperbaiki tanggul, hingga program bedah rumah, melibatkan mandor dan pekerja lokal.
Dampak Jangka Panjang
Menurut Restu Mahesa, semua program ini bertujuan menciptakan dampak yang bukan hanya jangka pendek, tapi juga menjadikan PIK 2 kawasan yang stabil, tangguh, dan berdaya saing tinggi dalam jangka panjang.
“Tujuan kami jelas: membangun kawasan yang bisa berdampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan ekonomi lokal sekaligus berkelanjutan,” tutup Restu.
Dengan pendekatan ESG yang terintegrasi, PIK 2 bukan sekadar proyek properti, tetapi model pembangunan kawasan yang mengutamakan manusia, lingkungan, dan tata kelola yang baik.