Beritaterkini – Bencana cuaca ekstrem kembali menghantam kawasan Afrika bagian selatan. Lebih dari 100 orang tewas akibat hujan lebat yang memicu banjir bandang di sejumlah negara, termasuk Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe. Otoritas setempat memperingatkan kondisi cuaca buruk ini masih berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Hujan dengan intensitas tinggi yang turun hampir tanpa jeda sejak akhir 2025 telah meluluhlantakkan permukiman warga, merusak infrastruktur vital, hingga memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka. Dampaknya tidak hanya terasa di wilayah perkotaan, tetapi juga di kawasan konservasi dan sentra pertanian.

Fenomena ini kembali menegaskan rapuhnya kawasan Afrika selatan terhadap perubahan iklim dan anomali cuaca global. Lembaga kemanusiaan internasional dan pemerintah setempat kini berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban, menyalurkan bantuan, serta mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.

Lebih dari 100 Orang Tewas, Bencana Meluas di Tiga Negara

Afrika Selatan: Banjir Lumpuhkan Provinsi Utara

Di Afrika Selatan, hujan deras yang mengguyur sejak Desember lalu telah menewaskan sedikitnya 19 orang di dua provinsi bagian utara. Banjir besar merendam permukiman, memutus akses jalan, dan merusak jembatan penghubung antarwilayah.

Salah satu dampak paling signifikan terjadi di Taman Nasional Kruger, destinasi wisata andalan negara tersebut. Badan Taman Nasional Afrika Selatan menyatakan kawasan taman terpaksa ditutup sementara setelah sejumlah ruas jalan dan jembatan rusak parah akibat terjangan banjir.

Sekitar 600 wisatawan dan staf dievakuasi menggunakan helikopter ke area yang lebih tinggi. Langkah ini dilakukan demi menghindari korban jiwa tambahan, mengingat debit air sungai di kawasan tersebut meningkat drastis dalam waktu singkat.

Pernyataan Presiden Afrika Selatan

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa turun langsung meninjau wilayah terdampak banjir di Provinsi Limpopo. Ia mengungkapkan bahwa curah hujan yang turun jauh melampaui kondisi normal.

“Daerah ini menerima lebih dari 380 milimeter hujan dalam waktu kurang dari satu minggu. Di salah satu distrik yang saya kunjungi, ada 36 rumah yang benar-benar hilang—atap, dinding, pagar, semuanya lenyap,” ujar Ramaphosa.

Pemerintah Afrika Selatan juga mengonfirmasi bahwa Badan Cuaca Afrika Selatan telah mengeluarkan peringatan cuaca level merah untuk sejumlah wilayah, dengan ancaman hujan lanjutan yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa dan merusak infrastruktur secara luas.

Mozambik: Korban Terbanyak dan Ancaman Krisis Kemanusiaan

Lebih dari 100 Korban Sejak Akhir Tahun Lalu

Situasi lebih parah terjadi di Mozambik. Institut Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Mozambik mencatat sedikitnya 103 orang meninggal dunia sejak akhir 2025 akibat musim hujan yang dinilai tidak biasa.

Penyebab kematian beragam, mulai dari tersambar petir, tenggelam dalam banjir, runtuhnya bangunan, hingga merebaknya wabah kolera di beberapa wilayah terdampak. Banjir terparah dilaporkan terjadi di wilayah tengah dan selatan negara tersebut.

Ratusan Ribu Warga Terdampak

Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan lebih dari 200.000 warga Mozambik terdampak langsung oleh banjir. Ribuan rumah mengalami kerusakan, sementara puluhan ribu orang terancam harus mengungsi jika hujan terus berlanjut.

Selain itu, sekitar 70.000 hektare lahan pertanian, termasuk tanaman pokok seperti padi dan jagung, terendam banjir. Kondisi ini memperparah ancaman ketahanan pangan, khususnya bagi petani kecil yang menggantungkan hidup pada musim tanam tahunan.

Zimbabwe dan Negara Lain Tak Luput dari Dampak

Zimbabwe: Infrastruktur Rusak Parah

Di Zimbabwe, Badan Penanggulangan Bencana setempat melaporkan sedikitnya 70 orang meninggal dunia sejak awal tahun akibat hujan deras. Lebih dari 1.000 rumah hancur, sementara fasilitas umum seperti sekolah, jalan utama, dan jembatan mengalami kerusakan berat.

Kerusakan infrastruktur ini menghambat distribusi bantuan dan memperlambat proses evakuasi, terutama di daerah pedesaan yang aksesnya sudah terbatas sejak awal.

Madagaskar, Malawi, dan Zambia Ikut Terdampak

Banjir juga dilaporkan melanda Madagaskar, Malawi, dan Zambia. Otoritas Madagaskar menyebut sedikitnya 11 orang meninggal dunia akibat banjir sejak akhir November lalu. Meski jumlah korban lebih kecil, risiko bencana susulan masih tinggi seiring curah hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Faktor Cuaca Ekstrem dan Pengaruh La Nina

Peringatan dari Lembaga Internasional

Sistem Peringatan Dini Kelaparan Amerika Serikat menyatakan banjir telah terjadi atau diperkirakan akan melanda sedikitnya tujuh negara di Afrika selatan. Kondisi ini dikaitkan dengan fenomena La Nina, yang dikenal membawa curah hujan lebih tinggi dari rata-rata di kawasan Afrika tenggara.

Para pakar iklim menilai pola cuaca ekstrem seperti ini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya suhu global dan perubahan pola atmosfer.

Tren Cuaca Ekstrem yang Berulang

Dalam satu dekade terakhir, Afrika selatan kerap menghadapi siklus ekstrem yang kontras—mulai dari siklon dahsyat, banjir besar, hingga kekeringan panjang yang memicu krisis pangan. Kombinasi faktor ini membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap guncangan iklim.

Upaya Evakuasi dan Respons Darurat

Militer Turun Tangan

Pemerintah Afrika Selatan mengerahkan helikopter militer untuk mengevakuasi warga yang terjebak di atap rumah dan pepohonan di wilayah utara. Helikopter militer juga menyelamatkan petugas perbatasan dan polisi yang terisolasi di pos pemeriksaan perbatasan Afrika Selatan–Zimbabwe akibat banjir.

Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa tambahan, terutama di daerah yang tidak dapat dijangkau kendaraan darat.

Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai

Bencana banjir kali ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang. Kerusakan lahan pertanian, terganggunya akses pendidikan dan kesehatan, serta risiko wabah penyakit menjadi tantangan serius bagi negara-negara terdampak.

Lembaga kemanusiaan internasional menekankan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi, sekaligus strategi adaptasi iklim jangka panjang agar kawasan Afrika selatan lebih siap menghadapi cuaca ekstrem di masa depan.

By admin