Bersama ribuan pemuda lainnya, Johan De Vries menjadi tentara sukarelawan Belanda. Berangkat tanpa pengalaman, dia kehilangan arah di medan perang. Johan menjadi bagian pasukan Raymond Westerling, De Turk –atau Si Turki– yang berdarah dingin.
—
JOHAN De Vries (Martijn Lakemeier) bertolak ke Semarang, Indies –sebutan Indonesia oleh kompeni– sebagai relawan perang. Awalnya, dia memiliki euforia penugasan. Pergi ke negeri tropis yang jauh dan mengabdi untuk Belanda. Johan tak lama bertahan di Semarang. Dia direkrut masuk pasukan Raymond Westerling (Marwan Kenzari), seorang komandan misterius.
Di satuan yang baru, Johan bertugas di Sulawesi Selatan. Dia sempat kagum dengan atasannya yang karismatik. Namun, kekaguman itu luntur saat Westerling membantai rakyat Indonesia tanpa pandang bulu. Johan memberontak. Dia meminta komandannya tak asal tebas. Hal itu justru jadi bumerang. Johan dianggap pembelot. Perang singkat di Indies membuatnya bertanya: apakah Belanda ada di pihak yang benar?
De Oost atau The East mengambil latar waktu Perang Kemerdekaan, yang berlangsung sepanjang 1945–1949. Pada tahun awal setelah kemerdekaan, Indonesia belum sepenuhnya lepas dari penjajah. Film besutan Jim Taihuttu tersebut diramu sejak 2012. Untuk menyajikan cerita yang akurat, sutradara berdarah Belanda-Maluku itu melakukan riset sekaligus wawancara dengan tentara sukarelawan perang.
Produser Sander Verdonk menjelaskan, Taihuttu punya misi menceritakan peristiwa sensitif yang kerap disembunyikan dalam sejarah Belanda. Dia mengakui, Negeri Kincir Angin itu tak punya banyak film tentang penjajahan Belanda di Indonesia. Sebagian besar film bertema perang mengulas kependudukan Nazi di sana. Verdonk menilai, dia cukup selektif menggandeng investor untuk film yang rilis di MOLA TV mulai 7 Agustus itu
’’Kami berusaha mencari investor yang tepat. Dan, akhirnya kami berpartner dengan rumah produksi Indonesia. Kami tidak mau asal datang, lalu syuting,” kata Verdonk dalam wawancara dengan NU.nl. Meski direncanakan dengan matang, The East tetap menuai kontroversi. Putri Westerling, Palmyra, menulis surat terbuka yang menyatakan keberatannya.
Dia menilai, tindakan ayahnya benar. Bahkan, karena perang di Sulawesi Selatan itu, Westerling mendapat julukan Ratu Adil. Selain itu, Menteri Pertahanan Belanda Ank Bijleveld menegaskan, The East memicu keresahan para veteran perang yang mempertaruhkan nyawa. ”Yang paling utama, mayoritas tentara di sana bertugas tanpa menggunakan kekerasan ekstrem,” cuitnya.
The East memiliki ”formula” umum film perang. Tokoh utamanya digambarkan sebagai serdadu muda yang tak berpengalaman. Karakter Johan pun serbatanggung. Dia mencintai kedamaian, menghindari konflik, tapi enggan ”tampil”. Berangkat tanpa tahu apa pun, si tokoh utama melalui titik puncak perang, lalu pulang kembali ke negerinya.
Pembedanya, film itu menggunakan alur maju mundur. Mudah diikuti, tapi cukup membuat penonton bingung. Bagi penonton tanah air, penggambaran Indonesia –terutama di luar setting lanskap– dan dialognya juga mungkin janggal serta ”kaku”.
Di Belanda, film yang dirilis kali pertama di Netherland Film Festival 2020 itu mendapat ulasan positif. The East dipuji karena berani menyoroti isu sensitif. Poin plus lainnya, visual yang ditampilkan memikat. ”Berawal dari gambaran sederhana tentara yang hidup damai, tapi perlahan membangun epilog yang mencekam,” ulas situs Belada Film Totaal.
Pemeran Johan Martijn Lakemeier juga mendapat pujian lantaran berhasil menampilkan range emosi yang luas. Dalam konferensi pers, aktor berumur 27 tahun itu menyatakan, The East menampilkan tokoh-tokoh multidimensi. Menurut dia, film tersebut berusaha membangun simpati untuk para veteran.
”Mereka datang dengan niat baik, untuk melakukan hal baik tanpa tahu apa pun. Film ini, tentu saja, berdasar pernyataan saksi mata dan kisah nyata. Tapi, ada elemen artistik yang membuat The East sebuah film, bukan dokumenter,” lanjutnya.
Baca Juga: Saatnya Bangkitkan Perekonomian Surabaya Saat PPKM Berakhir
FILM THE EAST
JADWAL RILIS: 7 Agustus 2021 (MOLA TV)
DURASI: 140 menit
RATING SENSOR: D17+
RUMAH PRODUKSI: New Amsterdam Film Company, Base Entertainment, Kaninga Pictures, XYZ Films, Salto Films
SUTRADARA: Jim Taihuttu
PENULIS NASKAH: Mustafa Duygulu, Jim Taihuttu
PEMERAN: Martijin Lakemeier, Marwan Kenzari, Lukman Sardi, Putri Ayudya
RATING: IMDb 7,0/10