SAMA seperti generasi Z lainnya, Sloan Struble –sosok di balik Dayglow– banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Terlebih ketika pandemi. Dia menceritakan, sepanjang tahun lalu, dirinya banyak masuk ke rabbit hole.
’’Kurasa itulah kerennya internet. Kalian pasti pernah kesasar dan mengenal hal-hal yang sungguh di luar dugaan,” paparnya dalam wawancara awal pekan lalu. Salah satu temuannya adalah musik pop klasik dan city pop yang besar di era 80-an.
Genre itulah yang diusung di Harmony House. Album yang rilis pada Mei 2021 tersebut membawa pendengarnya bernostalgia. Padahal, lagu itu dirilis musisi yang lahir di akhir 1990-an. Mayoritas pendengarnya pun generasi muda. ’’Seru banget melihat reaksi orang-orang terhadap album itu. Senang juga karena banyak orang merasa ’sefrekuensi’ dengan karyaku,” lanjut Sloan.
Di album kedua, dia banyak mengeksplorasi instrumen musik lain. Terutama synthesizer yang menjadi nyawa di lagu-lagu pop atau rock klasik. Harmony House menyuguhkan musik yang ceria dan kaya suara. Sloan merasa beruntung bisa menggarap album itu di masa pandemi. Dia juga menilai suasana ceria di albumnya sangat berpengaruh pada dirinya. ’’Musik menjadi alat yang ’menggerakkan’ hal-hal dalam hidup. Ia dapat mengubah mood, yang kuharap bisa dirasakan juga oleh orang lain,” terang musisi 21 tahun tersebut.
Dia menceritakan, berkarya di masa serba-terbatas punya plus dan minus. Poin plusnya, Sloan punya banyak kegiatan yang harus dikerjakan. Sebab, dia mengerjakan hampir seluruh tahap pengerjaan sendiri. Ada rutinitas harian. Sisi buruknya, dia terjebak jenuh dan tak bisa melarikan diri dengan berpelesir. ’’Kurasa hal ini berlaku buat semua orang. Kita perlu punya kesibukan lain di rutinitas. Kalau sudah stuck, aku biasanya jalan-jalan saja atau browsing,” ucapnya.
Mood memang menjadi kunci di album Harmony House. Di situs ulasan musik, album pertama Dayglow di bawah label AWAL itu banyak diapresiasi karena menyajikan lagu-lagu gembira.
Seakan dilahirkan di masa sebelum Covid-19. Liriknya riang. Klip video yang sudah dirilis, seperti Medicine dan Close to You, juga penuh warna dan dibalut filter vintage. Sloan mengakui, sebagian materi lagunya dikerjakan di tahun pertama kuliahnya dua tahun lalu. Namun, proses memoles nadanya dibuat setelah pandemi muncul.
’’Memang, kita bisa banget berbicara tentang hal-hal realistis di album ini. Tapi, entahlah, aku enggak mau datang ke pendengar dengan menyajikan album yang sedih. Karena melalui pandemi saja sudah sulit,” ujarnya.
Dia ingin Harmony House bisa membuat pendengarnya ceria dan bernostalgia ke masa-masa yang menyenangkan. ’’Meski bisa kugaransi, tidak semua orang yang mendengarkanku besar di era 80-an,” kelakar Sloan.
Kabar gembiranya, di momen rilis album kedua, Amerika Serikat mulai memberikan izin untuk konser musik. Akhir Juli lalu, Sloan baru saja ’’mencicipi” panggung pertamanya di Lollapalooza 2021, salah satu festival musik terbesar di Chicago. Dia mengaku tak punya ekspektasi atau persiapan tertentu untuk kembali ke panggung setelah lebih dari setahun tidak tampil live.
Baca Juga: Saatnya Bangkitkan Perekonomian Surabaya Saat PPKM Berakhir
’’Jujur, aku tidak tahu. Kurasa aku akan datang begitu saja, menikmati momen itu, dan seru-seruan di panggung. Tahu laguku disukai orang saja sudah cukup buatku,” lanjutnya. Perjalanan Dayglow tahun ini pun masih panjang. Bulan depan, dia bakal menggelar tur konser yang sebagian tiket panggungnya sudah sold out.