Beritaterkini.co.id – Alarm krisis berbunyi keras di Seoul. Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat pada Senin, 9 Maret 2026 indeks KOSPI anjlok 8,11 persen dalam hitungan jam perdagangan, memaksa otoritas bursa mengaktifkan circuit breaker atau penghentian perdagangan otomatis untuk kedua kalinya dalam bulan yang sama. Sementara di pasar valuta asing, nilai tukar won merangsek mendekati batas psikologis yang belum pernah tersentuh sejak 17 tahun lalu.
Pemicunya bukan datang dari dalam negeri Korea Selatan sendiri. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus memanas termasuk penunjukan pemimpin tertinggi baru Iran di tengah konflik terbuka dengan AS dan Israel memukul sentimen pasar global dengan keras. Korea Selatan, sebagai salah satu ekonomi paling terbuka dan berorientasi ekspor di dunia, selalu menjadi salah satu yang pertama merasakan getaran ketika geopolitik global bergejolak.
Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah konteks yang menyertainya. Ini bukan kepanikan satu hari yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari penurunan yang sudah berlangsung selama beberapa pekan dan angka-angkanya sudah mulai berbicara tentang sesuatu yang lebih serius dari sekadar koreksi teknikal biasa.
Data KOSPI: Angka yang Bicara Sendiri
Penurunan Terbesar Sejak Maret 2020
Berdasarkan data pada pukul 08.48 WIB, KOSPI tercatat di level 5.132,07 turun 452,80 poin atau 8,11 persen dalam satu sesi perdagangan. Dari total 927 saham yang diperdagangkan, hanya 56 saham yang berhasil naik, sementara 869 saham lainnya kompak melemah. Rasio yang hampir mustahil lebih buruk dari itu.
Tapi angka harian itu hanyalah bagian dari gambaran yang lebih gelap. Sepanjang pekan lalu saja, KOSPI sudah merosot 10,6 persen penurunan mingguan terbesar yang dialami indeks ini sejak Maret 2020, ketika dunia pertama kali dihantam pandemi COVID-19. Perbandingan dengan momen itu bukan kebetulan keduanya sama-sama dipicu oleh guncangan eksternal yang berskala global dan sulit diprediksi arah perkembangannya.
Samsung, SK Hynix, LG Energy Solution Ikut Terseret
Saham-saham unggulan Korea Selatan yang biasanya menjadi andalan investor pun tidak luput dari tekanan jual masif. Samsung Electronics raksasa semikonduktor yang menjadi barometer kesehatan ekonomi Korea Selatan merosot 10,04 persen. Pesaingnya, SK Hynix, bahkan turun lebih dalam lagi dengan penurunan 11,58 persen. Sementara LG Energy Solution, produsen baterai kendaraan listrik yang selama ini menjadi saham favorit investor global, melemah 6,62 persen.
Kejatuhan saham-saham chip dan baterai ini bukan hanya masalah Korea Selatan ini berdampak langsung pada rantai pasokan teknologi global, mengingat kedua sektor tersebut adalah tulang punggung industri elektronik dan kendaraan listrik dunia.
Won Mendekati Level Terburuk Sejak 2009
Ambang Psikologis 1.500 per Dolar Hampir Tertembus
Di pasar valuta asing, tekanan tidak kalah beratnya. Nilai tukar won Korea melemah 1,06 persen dan diperdagangkan di level 1.497,5 per dolar AS hanya selangkah dari ambang psikologis 1.500 per dolar yang sudah mulai membuat pasar gelisah.
Angka 1.500 per dolar bukan sekadar angka bulat yang enak dibicarakan. Pekan lalu, won sempat menyentuh level tersebut untuk pertama kalinya sejak Maret 2009 era krisis keuangan global yang masih diingat dengan ngeri oleh banyak pelaku pasar. Fakta bahwa won kembali mendekati level itu dalam waktu sangat singkat menunjukkan betapa dalamnya tekanan yang sedang dialami mata uang Korea Selatan.
Pasar Obligasi Ikut Terguncang
Kepanikan tidak berhenti di pasar saham dan valuta asing. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor 3 tahun yang paling likuid dan menjadi acuan utama pasar melonjak 19,6 basis poin menjadi 3,426 persen, level tertinggi sejak Juni 2024. Sementara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 13,3 basis poin menjadi 3,749 persen.
Kenaikan imbal hasil obligasi yang tajam mencerminkan penjualan besar-besaran di pasar surat utang sinyal bahwa investor tidak hanya keluar dari saham, tapi juga dari aset yang selama ini dianggap lebih aman.
Asing Kabur, Bank of Korea Siaga
Investor Asing Tarik 1,8 Triliun Won dalam Satu Hari
Salah satu angka yang paling mencolok dari sesi perdagangan hari ini adalah skala pelarian modal asing. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih saham senilai 1,8 triliun won atau setara sekitar 1,20 miliar dolar AS hanya dalam satu hari perdagangan. Ini adalah tanda bahwa kepercayaan investor internasional terhadap aset Korea Selatan sedang berada di titik yang sangat rendah.
Bank of Korea: Siap Turun Tangan
Merespons gejolak yang semakin parah, Bank of Korea (BOK) angkat bicara dan menyatakan bahwa telah terjadi volatilitas berlebihan di pasar obligasi dan valuta asing. Bank sentral Korea Selatan itu menegaskan kesiapannya untuk mengambil langkah stabilisasi pasar jika diperlukan sebuah pernyataan yang dalam bahasa bank sentral manapun berarti intervensi langsung sedang berada di atas meja.
Faktor Timur Tengah: Bahan Bakar di Tengah Api
Di balik semua angka ini, satu faktor geopolitik terus memperburuk sentimen: konflik Timur Tengah yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang terbunuh dalam serangan AS-Israel sebagai pemimpin tertinggi baru. Penunjukan ini memberi sinyal kuat bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali di Teheran, menutup peluang de-eskalasi cepat dan berpotensi memperpanjang ketidakpastian geopolitik yang kini menghantui pasar global.
Lonjakan harga minyak yang dipicu ketegangan di Selat Hormuz memperparah sentimen risk-off secara global mendorong investor untuk keluar dari aset berisiko seperti saham pasar berkembang, termasuk Korea Selatan, dan mencari perlindungan di aset-aset yang dianggap lebih aman.
Korea Selatan kini berdiri di persimpangan: antara menunggu badai geopolitik mereda dengan sendirinya, atau mengambil langkah intervensi yang lebih agresif sebelum kepanikan pasar berubah menjadi krisis kepercayaan yang lebih dalam.