Beritaterkini.co.idSetiap tahun, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia menutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dengan sebuah momen yang tak kalah meriah dari hari pertamanya. Momen itu adalah Cap Go Meh, perayaan yang jatuh tepat pada malam kelima belas bulan pertama penanggalan Imlek. Di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, perayaan ini bukan sekadar tradisi keluarga ini adalah festival budaya berskala besar yang menyedot perhatian ribuan orang dari berbagai penjuru.

Tahun 2026 ini, Cap Go Meh jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026, menutup rangkaian perayaan Imlek 2577 Kongzili yang dimulai sejak 17 Februari 2026. Bagi sebagian orang, Cap Go Meh mungkin hanya terdengar sebagai nama sebuah festival. Tapi di balik namanya yang sederhana, tersimpan lapisan sejarah, filosofi, dan kepercayaan yang kaya dari peradaban Tiongkok yang sudah berlangsung ribuan tahun.

Lalu, dari mana sebenarnya Cap Go Meh berasal? Apa makna di balik tradisi lampion, tatung, dan makanan khasnya? Dan kenapa perayaan ini bisa begitu bermakna bagi jutaan orang Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia? Yuk, kita telusuri bersama.

Arti dan Asal-Usul Nama Cap Go Meh

Banyak orang menyebut Cap Go Meh tanpa benar-benar tahu dari mana nama itu berasal. Ternyata, nama ini memiliki akar linguistik yang menarik dan berbeda-beda tergantung dari dialek yang digunakan.

Dari Dialek Tiociu, Hokkien, hingga Mandarin

Menurut Steven Greatness, Ketua Umum Kaum Muda Tionghoa (KMT) Kalimantan Barat, sebutan Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien, yang secara harfiah berarti malam kelima belas. Sementara dalam dialek Hakka, perayaan ini disebut Cang Nyiat Pan, yang bermakna pertengahan bulan satu.

Di daratan Tiongkok sendiri, perayaan ini dalam bahasa Mandarin disebut Yuan Xiau Ciek, artinya festival malam bulan satu. Adapun di dunia barat, perayaan ini lebih dikenal dengan nama Lantern Festival atau Festival Lampion, merujuk pada tradisi pemasangan lampion yang menjadi ciri khasnya.

Perbedaan nama ini bukan berarti berbeda perayaan. Semuanya merujuk pada satu momen yang sama: malam bulan purnama pertama di awal tahun baru Imlek, yang dianggap sebagai penutup resmi seluruh rangkaian perayaan.

Sejarah Cap Go Meh: Dua Versi yang Sama-Sama Menarik

Seperti banyak tradisi budaya lainnya, Cap Go Meh memiliki lebih dari satu versi cerita asal-usul. Steven Greatness menjelaskan setidaknya ada dua versi utama yang diyakini masyarakat Tionghoa hingga hari ini.

Versi Pertama: Warisan Dinasti Han

Versi pertama menyebutkan bahwa Yuan Xiau Ciek sudah dirayakan sejak masa Dinasti Xie Han, sekitar tahun 206 SM hingga 24 M. Pada era ini, perayaan tersebut digelar untuk menandai berakhirnya rangkaian Tahun Baru Imlek sekaligus memiliki dimensi spiritual yang dalam.

Secara spiritual, dalam kepercayaan Taoisme, Cap Go Meh dikenal sebagai San Yuan, yaitu hari lahir Shang Yuan Thian Kuan atau Dewa Langit yang dipercaya memberikan karunia kepada manusia. Ini menjadikan Cap Go Meh bukan sekadar pesta rakyat, tapi juga momen ibadah yang sakral.

Cerita berlanjut ke masa Dinasti Tung Han (25–220 M), di mana Kaisar Liu Chang memerintahkan rakyatnya untuk menggelar sembahyang syukuran, arak-arakan, memasang lampion, dan berbagai atraksi kesenian rakyat pada malam Cap Go Meh. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha Sakyamuni yang dipercaya telah menampakkan diri pada malam tersebut.

Versi Kedua: Lampion dari Ladang Para Petani

Versi kedua datang dari tradisi yang lebih membumi. Berdasarkan cerita rakyat dari masa Dinasti Tung Zhou (770–256 SM), para petani di Tiongkok pada tanggal 15 bulan pertama Imlek memiliki kebiasaan memasang lampion yang disebut Chau Tian Can di sekeliling ladang mereka.

Tujuannya sederhana namun cerdas: mengusir hama dan menakuti binatang perusak tanaman. Para petani juga percaya bahwa warna api dalam lampion di malam itu bisa menjadi pertanda cuaca sepanjang tahun, apakah akan datang kemarau panjang atau musim hujan yang lebat.

Seiring berjalannya waktu, tradisi memasang lampion ini terus berkembang. Setiap tahun, jumlah lampion semakin bertambah, menciptakan pemandangan yang luar biasa indah. Untuk menakuti binatang pengganggu, para petani pun menambahkan bunyi-bunyian, pertunjukan barongsai, hingga arak-arakan tatung sebagai bagian dari ritual tolak bala.

Makna Religius dan Budaya Cap Go Meh

Cap Go Meh bukan satu-satunya milik satu kelompok atau satu agama. Justru inilah yang membuat perayaan ini begitu inklusif dan universal di tengah komunitas Tionghoa.

Perayaan Lintas Kepercayaan

Steven menjelaskan bahwa Cap Go Meh dirayakan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa yang menganut Tridharma sebagai hari raya religius umat Taoisme, Buddhis, dan Konghucu sekaligus. Namun bagi mereka yang tidak menganut kepercayaan Tridharma, Cap Go Meh tetap bisa dirayakan sebagai tradisi budaya, sesuai dengan kondisi dan situasi daerah masing-masing.

Fleksibilitas inilah yang membuat Cap Go Meh bertahan dan terus berkembang, bahkan di luar daratan Tiongkok. Di berbagai negara tempat diaspora Tionghoa menetap, termasuk Indonesia, perayaan ini melebur dengan budaya lokal dan tetap hidup dengan cara yang unik.

Tang Yuan: Makanan Khas yang Sarat Filosofi

Tidak lengkap membahas Cap Go Meh tanpa menyebut makanan khasnya. Sajian yang paling identik dengan perayaan ini adalah Yuan Xiao atau Tang Yuan.

Tang Yuan adalah bola-bola kecil berbahan adonan tepung beras yang kenyal, berisi manisan manis di dalamnya. Teksturnya lembut, rasanya manis, dan cara memakannya biasanya dalam sajian kuah panas yang hangat.

Tapi lebih dari sekadar makanan enak, Tang Yuan menyimpan filosofi yang dalam. Steven menjelaskan bahwa istilah Yuan Xiao secara harfiah berarti malam di hari pertama, dan makanan ini melambangkan kebersamaan serta bersatunya sebuah keluarga besar. Tema inilah yang menjadi inti dari seluruh rangkaian perayaan Imlek hingga puncaknya di Cap Go Meh: kembali bersama, saling merayakan, dan mensyukuri kehidupan bersama orang-orang tersayang.

Cap Go Meh di Kalimantan Barat: Perayaan yang Mendunia

Dari semua daerah di Indonesia, Kalimantan Barat, khususnya Kota Singkawang, dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Cap Go Meh terbesar dan paling meriah. Arak-arakan tatung, pertunjukan barongsai, dan ribuan lampion menjadikan Singkawang sebagai destinasi wisata budaya yang menarik minat wisatawan dari dalam dan luar negeri setiap tahunnya.

Tradisi yang bermula dari ladang para petani di Tiongkok ribuan tahun lalu kini telah bertransformasi menjadi festival budaya yang mempersatukan banyak orang. Itulah kekuatan Cap Go Meh: meski zaman terus berubah, maknanya tetap relevan dan menggerakkan hati jutaan orang.

Jadi, apakah kamu sudah berencana menyaksikan atau merayakan Cap Go Meh 2026? Kalau belum, mungkin inilah saatnya. Karena Cap Go Meh bukan hanya soal lampion dan tatung ini soal memahami sejarah, menghargai budaya, dan merayakan kebersamaan. Baca juga artikel kami lainnya tentang tradisi dan festival budaya yang menarik untuk kamu eksplorasi!

By admin