Pasar saham Indonesia tengah mengalami gejolak luar biasa. Dalam dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam, membuat banyak investor panik. Salah satu sorotan utama jatuh pada kekayaan pengusaha senior, Prajogo Pangestu, yang nilainya merosot fantastis dalam hitungan hari.

Pangestu, pendiri Barito Pacific yang kini berusia 81 tahun, kehilangan sekitar Rp150 triliun atau setara USD 9 miliar akibat turunnya harga saham-saham perusahaannya. Kejadian ini otomatis membuat publik bertanya-tanya: apakah beliau akan panik seperti investor lainnya, atau justru memiliki strategi berbeda?

Menariknya, alih-alih menjual saham, Prajogo memilih langkah berani dengan membeli saham baru di tengah pasar yang sedang kacau. Langkah ini menjadi sorotan banyak analis dan media, menandakan kepercayaan dirinya terhadap prospek jangka panjang perusahaannya.

Gejolak Pasar: IHSG Merosot Drastis

Kondisi pasar saham Indonesia terlihat sangat tegang dalam dua hari terakhir. Pada Kamis, 29 Januari 2026, IHSG sempat turun lebih dari 8% ke level 7.654 hingga Bursa Efek Indonesia memberlakukan trading halt sementara.

Sehari sebelumnya, IHSG juga anjlok 7,35%, membuat nilai seluruh saham yang tercatat di BEI menyusut lebih dari Rp1.259 triliun. Fenomena ini jelas menimbulkan kepanikan, terutama bagi investor ritel dan asing yang tengah memantau pergerakan pasar.

Penyebab Anjloknya IHSG

Gejolak ini bermula dari keputusan MSCI, lembaga penyedia indeks global, yang membekukan sementara penyesuaian indeks saham Indonesia. MSCI menilai struktur kepemilikan saham di Indonesia masih terlalu terkonsentrasi dan kurang transparan.

Situasi semakin diperburuk ketika Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia. Bank investasi asal Amerika Serikat itu memperingatkan bahwa dana asing bisa keluar hingga USD 13 miliar jika status pasar Indonesia diturunkan. Hal ini memicu aksi

Prajogo Pangestu Justru Membeli Saham di Tengah Krisis

Di tengah kepanikan pasar, langkah Prajogo Pangestu justru mengejutkan banyak pihak. Pada 28 Januari 2026, ia membeli sekitar 7 juta saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan total dana sekitar Rp10,86 miliar.

Langkah ini dilakukan sebagai investasi pribadi dan menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek jangka panjang perusahaannya. Meski begitu, saham-saham lain yang terafiliasi dengannya tetap mengalami tekanan signifikan. Misalnya:

  • Barito Renewables Energy (BREN) turun lebih dari 12%
  • Petrosea (PTRO) ikut terkoreksi tajam
  • CUAN juga menurun mengikuti tren pasar

Strategi Berani di Tengah Ketidakpastian

Langkah membeli saham saat pasar tengah jatuh bukan tanpa risiko. Namun, bagi pengusaha berpengalaman seperti Prajogo, ini bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan harga murah dan memperkuat portofolio jangka panjang. Hal ini juga menunjukkan sikap percaya diri dan optimis terhadap perusahaan yang dikendalikan.

egulator Turun Tangan: OJK dan Transparansi Pasar

Menanggapi gejolak ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan aturan baru. Ketua OJK, Mahendra Siregar, menyatakan bahwa batas minimal saham publik (free float) akan dinaikkan dari 7,5% menjadi 15%. Langkah ini bertujuan meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar.

Pihak Prajogo sendiri menyatakan sedang menelaah pernyataan MSCI dan siap berkomunikasi dengan semua pihak terkait. MSCI memberi waktu hingga Mei 2026 bagi Indonesia untuk memperbaiki transparansi pasar saham. Bila tidak ada perbaikan signifikan, status Indonesia sebagai emerging market bisa diturunkan menjadi frontier market, yang akan berdampak lebih luas terhadap investasi asing.

Optimisme di Tengah Gejolak

Meskipun kekayaannya menyusut hingga Rp150 triliun, Prajogo Pangestu tetap menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap pasar dan perusahaannya. Keputusan untuk membeli saham di tengah ketidakpastian menegaskan bahwa strategi jangka panjang dan keyakinan terhadap fundamental perusahaan bisa menjadi kunci sukses bagi pengusaha dan investor berpengalaman.

Bagi investor lain, gejolak IHSG menjadi pengingat pentingnya memahami risiko pasar, diversifikasi aset, dan tetap tenang saat menghadapi volatilitas. Sementara bagi Prajogo, langkah berani ini bisa jadi awal dari peluang baru untuk memperkuat portofolio investasinya di masa depan.

By admin