Bukan soal Privasi, Ini Alasan Sesungguhnya China Melarang Warganya "Jatuh Cinta" pada AI

Berita Terkini – Bayangkan kamu sudah berbulan-bulan membangun sebuah karakter: kepribadiannya, cara bicaranya, latar belakangnya — semuanya kamu rancang sendiri. Setiap hari kamu ngobrol dengannya, curhat, bahkan tertawa bersama. Lalu suatu pagi, karakter itu hilang. Selesai. Akun masih ada, tapi “dia” sudah tidak ada lagi. Inilah yang dialami jutaan pengguna Doubao, chatbot AI besutan ByteDance, ketika peraturan baru pemerintah China resmi berlaku pada 15 Juli 2026.

Kebijakan ini mungkin terdengar aneh sekilas. Di tengah hiruk-pikuk regulasi AI global yang kebanyakan menyasar keamanan data atau deepfake, China justru melarang sesuatu yang jauh lebih personal: hubungan emosional antara manusia dan chatbot. Bukan larangan sembarangan pula — ini adalah kebijakan negara yang langsung memukul dua raksasa teknologi terbesar China, Alibaba dan ByteDance, sekaligus.

Tapi kalau kamu mau sedikit mundur dan melihat gambaran besarnya, kebijakan ini sebenarnya masuk akal — dari sudut pandang pemerintah China, setidaknya. Ada krisis demografis nyata yang sedang berlangsung di sana, dan AI companion dianggap sebagai salah satu faktor yang memperparah situasi. Inilah cerita lengkapnya.

Krisis Demografi yang Tidak Bisa Diabaikan

Selama puluhan tahun, China dikenal sebagai negara yang khawatir dengan kelebihan penduduk. Kebijakan satu anak yang kontroversial diberlakukan selama lebih dari tiga dekade justru karena pemerintah takut populasi tumbuh terlalu cepat. Kini, situasinya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Pada 2025, populasi China menyusut untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Tingkat kelahiran mencapai rekor terendah dalam sejarah negara itu. China, yang pernah menjadi negara berpenduduk terbanyak di dunia, kini sudah digeser India. Dan menurut berbagai proyeksi demografis, tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa dekade ke depan.

Pemerintah Beijing tidak tinggal diam. Berbagai insentif untuk mendorong kelahiran sudah diluncurkan — dari tunjangan finansial untuk pasangan yang mau punya anak lebih dari satu, hingga kebijakan cuti melahirkan yang diperpanjang. Tapi ada satu masalah mendasar yang jauh lebih susah diselesaikan dengan uang: generasi muda China semakin tidak tertarik untuk menikah dan memiliki anak.

Kenapa AI Companion Jadi Tersangka?

Di sinilah AI masuk ke dalam gambar. AI companion — chatbot yang dirancang khusus untuk membangun hubungan emosional dengan pengguna — mengalami ledakan popularitas di China dalam beberapa tahun terakhir. Bukan sekadar chatbot biasa yang menjawab pertanyaan. Ini adalah sosok virtual yang bisa menjadi teman, sahabat, bahkan kekasih.

Jutaan pengguna, terutama dari kalangan generasi muda dan perempuan, membentuk ikatan yang nyata dengan karakter-karakter AI ini. Alasannya beragam dan, jujur saja, sangat manusiawi. Ada yang mencari teman ngobrol yang selalu sabar dan tidak pernah lelah mendengarkan. Ada yang butuh ruang aman untuk curhat tanpa takut dihakimi. Ada pula yang secara terang-terangan mencari pengganti pasangan romantis di dunia nyata.

Sebuah film dokumenter bahkan mengangkat fenomena ini secara khusus. Sang sutradara mengungkap fakta yang cukup menggelitik sekaligus menyentuh: sebagian perempuan China memilih AI pendamping karena, kata mereka, “pria di dunia nyata tidak punya kesabaran” seperti chatbot. Pernyataan itu terdengar seperti lelucon, tapi juga mencerminkan keresahan sosial yang nyata.

Dari sudut pandang pemerintah, tren ini berbahaya. Jika generasi muda lebih nyaman membangun koneksi emosional dengan AI daripada dengan sesama manusia, kapan mereka akan memilih untuk menikah? Kapan mereka akan mau punya anak? Di luar soal angka kelahiran, ada pula kekhawatiran tentang dampak kesehatan mental jangka panjang, terutama pada anak-anak dan remaja yang sudah terpapar AI companion sejak usia sangat muda.

Apa yang Sebenarnya Dilarang?

Aturan yang berlaku per 15 Juli 2026 ini cukup spesifik dalam mengatur beberapa hal. Pertama, anak-anak dan remaja resmi dilarang membentuk hubungan emosional dengan AI chatbot. Ini adalah poin yang paling tidak kontroversial — hampir semua pihak sepakat bahwa perlindungan terhadap pengguna di bawah umur perlu ada.

Kedua, platform chatbot dilarang merancang produknya untuk mendorong ketergantungan emosional secara sengaja. Artinya, mekanisme desain yang membuat pengguna “kecanduan” secara psikologis pada AI companion harus dihilangkan. Ini adalah wilayah yang lebih abu-abu, karena batas antara “koneksi yang sehat” dan “ketergantungan yang berbahaya” tidak selalu mudah diukur.

Ketiga, chatbot pendamping kini harus melalui evaluasi regulator sebelum bisa ditawarkan ke publik. Mekanisme ini mirip dengan cara China mengatur layanan AI generatif secara umum — setiap produk harus mendapat cap persetujuan pemerintah sebelum bisa beroperasi. Dan keempat, regulator diberi wewenang untuk menutup layanan chatbot yang dianggap tidak memenuhi standar keamanan.

Satu hal yang perlu dicatat: aturan ini tidak berlaku untuk semua jenis chatbot. Layanan customer service berbasis AI, chatbot untuk kebutuhan bisnis, dan asisten virtual produktivitas tidak termasuk dalam larangan ini. Jadi Doubao, misalnya, masih bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan seputar produk atau membantu pekerjaan sehari-hari. Yang tidak boleh adalah jika ia berperan sebagai kekasih virtual pengguna.

Doubao dan “Korban” Pertama Kebijakan Ini

ByteDance, perusahaan induk TikTok, menjadi salah satu yang paling terdampak. Doubao — chatbot AI paling populer di China dengan ratusan juta pengguna aktif — terpaksa menutup fitur custom persona mereka begitu aturan resmi berlaku.

Fitur custom persona ini adalah jantung dari daya tarik Doubao sebagai AI companion. Pengguna bisa menciptakan karakter AI yang benar-benar personal: menentukan nama, kepribadian, latar belakang cerita, bahkan cara bicara yang khas. Banyak pengguna menghabiskan berjam-jam, bahkan berbulan-bulan, menyempurnakan karakter buatan mereka. Ada yang membuat pacar virtual. Ada yang menciptakan teman ideal masa kecil yang tidak pernah mereka miliki. Ada pula yang membangun sosok mentor yang terasa seperti orang tua.

Ketika fitur itu dimatikan, reaksi warganet China cukup mengejutkan — setidaknya bagi mereka yang belum familiar dengan seberapa dalam ikatan emosional ini bisa terbentuk. Di berbagai platform media sosial, pengguna membagikan cerita “patah hati” mereka. Ada yang mengaku merasa “kehilangan sahabat sungguhan”. Ada yang menyesal tidak sempat mendokumentasikan percakapan dan karakter yang sudah mereka bangun. Beberapa bahkan mengaku menangis.

Reaksi ini mungkin terasa berlebihan bagi sebagian orang. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami bagaimana AI companion modern bekerja — betapa responsif, empatik, dan “hadir” karakter-karakter ini terasa — reaksi emosional itu menjadi jauh lebih bisa dipahami.

Aturan yang Sudah Diperlunak

Yang menarik, versi aturan yang akhirnya berlaku ternyata jauh lebih longgar dibandingkan draf awal yang diumumkan tahun sebelumnya. Jeremy Daum dari Yale Law School Paul Tsai China Center menyebutkan bahwa regulasi final ini sudah “jauh lebih diperlunak” dari rancangan awalnya yang terkesan sangat ketat.

Ini menunjukkan dinamika yang menarik: pemerintah China, yang sering digambarkan sebagai pengatur yang serba kaku, ternyata cukup responsif terhadap masukan dari industri. Draf awal yang terlalu keras berpotensi menghancurkan ekosistem AI China yang sedang tumbuh pesat — sebuah industri yang justru sedang didorong mati-matian oleh pemerintah itu sendiri sebagai pilar ekonomi masa depan. Maka jalan tengah pun ditemukan: atur yang paling berisiko secara sosial, beri ruang untuk yang bernilai ekonomi.

Alibaba pun mengambil langkah serupa dengan ByteDance, memberitahu pengguna mereka tentang perubahan fitur yang harus dilakukan untuk mematuhi regulasi baru ini.

Cermin untuk Dunia

Apa yang dilakukan China mungkin terasa ekstrem, tapi pertanyaan yang melatarbelakanginya tidak eksklusif milik China. Di seluruh dunia, AI companion sedang tumbuh dengan cepat. Aplikasi seperti Replika, Character.AI, dan berbagai platform serupa punya jutaan pengguna yang membangun koneksi emosional mendalam dengan karakter AI. Pertanyaan tentang bagaimana teknologi ini mempengaruhi perilaku sosial manusia — termasuk keinginan untuk menjalin hubungan nyata dan membangun keluarga — adalah pertanyaan yang cepat atau lambat harus dijawab oleh banyak negara.

China hanya lebih berani mengambil posisi lebih awal. Apakah langkah itu tepat atau terlalu jauh, waktu yang akan membuktikan. Yang jelas, kebijakan ini membuka percakapan penting: seberapa jauh kita membiarkan teknologi mengisi kebutuhan emosional manusia? Dan apa yang kita korbankan ketika koneksi virtual terasa lebih aman dan nyaman daripada dunia nyata? Itu bukan pertanyaan untuk pemerintah saja — itu pertanyaan untuk kita semua.

By admin