Beritaterkini.co.id – Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah politik dan militer nasional. Try Sutrisno meninggal dunia pada Senin (2/3), menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang pernah berada di lingkaran kekuasaan tertinggi negeri ini.
Bagi sebagian generasi, namanya identik dengan era Orde Baru—periode ketika militer memiliki peran strategis dalam pemerintahan. Ia bukan hanya seorang jenderal, tetapi juga Wakil Presiden ke-6 Indonesia yang mendampingi Presiden Soeharto pada masa yang penuh dinamika.
Kepergian Try Sutrisno meninggal dunia di usia 90 tahun menjadi momen refleksi. Bukan sekadar kabar duka, tetapi juga pengingat akan satu fase penting dalam sejarah Indonesia yang membentuk arah politik, militer, dan pemerintahan hingga hari ini.
Try Sutrisno Meninggal, Indonesia Berduka
Kabar Try Sutrisno meninggal dunia langsung menyita perhatian publik. Sosok purnawirawan Jenderal TNI ini dikenal luas sebagai figur yang meniti karier dari bawah hingga mencapai jabatan tertinggi di militer.
Sebagai Wakil Presiden ke-6 Indonesia, ia menjabat pada periode 1993–1998. Masa jabatannya berlangsung menjelang salah satu titik balik terbesar dalam sejarah bangsa: krisis ekonomi 1997 dan Reformasi 1998.
Kepergiannya menjadi simbol berakhirnya satu generasi pemimpin yang sangat lekat dengan peran militer dalam pemerintahan.
Latar Belakang Kehidupan: Tumbuh di Era Pascakemerdekaan
Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Ia tumbuh dalam suasana Indonesia yang baru merdeka, ketika semangat nasionalisme dan pengabdian kepada negara sangat kuat.
Lingkungan sosial dan politik saat itu membentuk karakter generasi muda yang keras, disiplin, dan berorientasi pada stabilitas nasional. Ketertarikannya pada dunia militer membawanya masuk ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).
Pendidikan militer inilah yang menjadi fondasi awal kariernya di tubuh TNI Angkatan Darat.

Karier Militer yang Panjang dan Strategis
Perjalanan militer Try Sutrisno tidak instan. Ia melalui berbagai tahapan dan penugasan penting sebelum mencapai pucuk pimpinan.
Awal Karier dan Operasi Militer
Sebagai perwira muda, ia terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI. Pengalaman ini menjadi batu loncatan penting dalam pembentukan reputasinya sebagai prajurit lapangan.
Seiring waktu, ia dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis, antara lain:
- Kepala Staf Kodam XVI/Udayana (1978)
- Panglima Kodam IV/Sriwijaya (1979)
- Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985)
- Kepala Staf Angkatan Darat (1986–1988)
Komitmen pada Kesejahteraan Prajurit
Saat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, Try Sutrisno mendirikan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD. Langkah ini menunjukkan perhatiannya pada aspek kesejahteraan prajurit, bukan hanya urusan strategi dan operasi.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu warisan struktural di internal Angkatan Darat.
Menjadi Panglima ABRI di Era Dwifungsi
Tonggak penting kariernya terjadi ketika ia diangkat sebagai Panglima ABRI pada 1988. Pada masa itu, ABRI (kini TNI) masih menjalankan konsep dwifungsi—yakni peran pertahanan-keamanan sekaligus sosial-politik.
Sebagai Panglima ABRI periode 1988–1993, Try Sutrisno memimpin institusi militer di tengah dinamika global yang berubah cepat. Era akhir Perang Dingin dan meningkatnya tekanan internasional terhadap isu demokrasi membuat posisi Indonesia berada dalam sorotan.
Tantangan Domestik dan Internasional
Di dalam negeri, stabilitas politik menjadi prioritas utama pemerintahan Orde Baru. Militer memiliki peran sentral dalam menjaga ketertiban dan keamanan nasional.
Di luar negeri, isu hak asasi manusia dan demokratisasi mulai menjadi perhatian global. Kepemimpinan Try Sutrisno pada periode ini memperkuat posisinya sebagai figur penting dalam elite kekuasaan.
Terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 Indonesia
Pada Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden ke-6 Indonesia, mendampingi Presiden Soeharto. Ia menggantikan Sudharmono dan menjadi representasi kuat unsur militer di pucuk kepemimpinan nasional.
Sebagai Wakil Presiden, ia aktif dalam berbagai agenda kenegaraan, mulai dari kunjungan kerja ke daerah hingga pertemuan internasional.
Masa Jabatan di Tengah Pertumbuhan dan Krisis
Awal masa jabatannya ditandai pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Namun situasi berubah drastis ketika krisis moneter Asia melanda pada 1997.
Krisis tersebut berkembang menjadi krisis multidimensi—ekonomi, sosial, hingga politik. Puncaknya adalah Reformasi 1998 yang mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto.
Try Sutrisno menyelesaikan masa jabatannya dalam situasi penuh gejolak, sekaligus menjadi saksi perubahan besar dalam sistem politik Indonesia.
Warisan dan Perspektif Sejarah
Kabar Try Sutrisno meninggal dunia tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah panjang yang ia jalani. Ia adalah bagian dari generasi pemimpin militer yang memainkan peran besar dalam pemerintahan Orde Baru.
Bagi sebagian kalangan, ia dipandang sebagai simbol stabilitas dan disiplin militer. Bagi yang lain, namanya selalu dikaitkan dengan era dwifungsi ABRI yang kemudian dihapus pasca-Reformasi.
Dari perspektif sejarah, figur seperti Try Sutrisno menjadi penghubung antara fase militeristik Orde Baru dan transisi menuju era demokrasi modern Indonesia.
Refleksi atas Kepergian Try Sutrisno
Kepergian Try Sutrisno meninggal dunia menutup satu bab penting dalam perjalanan kepemimpinan nasional. Dari prajurit lapangan hingga Wakil Presiden ke-6 Indonesia, ia menapaki jalur panjang yang tidak mudah.
Sejarah akan mencatat kiprahnya sesuai sudut pandang masing-masing generasi. Namun satu hal pasti: namanya telah menjadi bagian dari narasi besar politik dan militer Indonesia.
Bagi generasi muda, momen ini bisa menjadi kesempatan untuk memahami lebih dalam bagaimana peran militer dalam pemerintahan pernah membentuk arah bangsa.
Apakah warisan kepemimpinan era tersebut masih terasa hingga kini? Atau justru menjadi pelajaran penting untuk sistem politik yang lebih demokratis?