Stadion Olimpico biasanya menjadi tempat Lazio menunjukkan wibawa mereka. Namun kali ini ceritanya berbeda. Di hadapan pendukung sendiri, I Biancoceleste justru harus menelan pil pahit dari tim tamu yang datang dengan kepercayaan diri tinggi.

Pertandingan Lazio vs Como di pekan ke-21 Liga Italia 2025/2026 bukan sekadar soal tiga poin. Laga ini sarat makna karena mempertemukan dua sosok yang punya hubungan erat sebagai guru dan murid: Maurizio Sarri dan Cesc Fabregas.

Hasil akhirnya pun kembali menegaskan satu hal. Untuk kesekian kalinya, Fabregas sukses memecundangi Sarri. Como 1907 tampil efektif, dingin, dan tanpa ampun, menutup laga dengan kemenangan telak 3-0 di jantung ibu kota Italia.

Lazio vs Como: Duel Guru dan Murid yang Kembali Berpihak ke Fabregas

Secara kondisi, kedua tim sebenarnya datang dengan cerita yang berbeda. Lazio berambisi bangkit di kandang, sementara Como mencoba memperbaiki performa setelah dua laga beruntun tanpa kemenangan.

Namun, di atas kertas, Como justru terlihat lebih siap. Tim berjuluk I Lariani menunjukkan perkembangan signifikan sejak ditangani Fabregas, terutama dalam hal organisasi permainan dan keberanian menekan lawan.

Modal Berbeda, Mentalitas Kontras

Lazio mengandalkan pengalaman dan dominasi penguasaan bola ala Sarri-ball. Sementara Como tampil lebih pragmatis, cepat dalam transisi, dan efisien memanfaatkan celah.

Perbedaan pendekatan ini langsung terasa sejak menit awal laga. Bahkan, Como hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk mengejutkan publik Olimpico.

Gol Kilat Baturina Bikin Lazio Terdiam

Pertandingan baru berjalan sekitar 100 detik ketika Como membuka keunggulan. Martin Baturina menjadi aktor utama lewat penyelesaian dingin di depan gawang Ivan Provedel.

Berawal dari umpan Alex Valle di dalam kotak penalti, bola sempat mengenai pemain bertahan Lazio sebelum jatuh ke kaki Baturina. Dengan kontrol sederhana dan tembakan terarah, ia sukses mengelabui Provedel. Como unggul 1-0.

Gol cepat ini jelas mengganggu rencana Sarri. Lazio terpaksa bermain lebih terbuka, sesuatu yang justru menguntungkan tim tamu.

Lazio Mencoba Bangkit, Tapi Como Lebih Tajam

Lazio sempat menciptakan peluang melalui tembakan jarak jauh Danilo Cataldi pada menit ke-14. Namun, Jean Butez tampil sigap di bawah mistar gawang Como.

Alih-alih menyamakan kedudukan, Lazio kembali kebobolan pada menit ke-24. Kali ini, Nico Paz menunjukkan naluri golnya dengan memanfaatkan kemelut di depan gawang.

Sapuan tak sempurna Mario Gila justru jatuh ke kaki Paz. Tanpa ragu, wonderkid Como itu langsung menyambar bola dan membawa timnya unggul 2-0.

Penalti Gagal Tak Mengendurkan Dominasi Como

Drama belum berhenti. Pada menit ke-35, Como mendapat hadiah penalti setelah Maxence Caqueret dijatuhkan Kenneth Taylor di kotak terlarang. VAR memastikan pelanggaran tersebut.

Nico Paz maju sebagai eksekutor. Sayangnya, sepakannya berhasil ditepis Provedel. Penalti gagal ini sempat memberi harapan bagi Lazio untuk bangkit.

Namun, mental Como tidak goyah. Mereka tetap tenang dan disiplin hingga babak pertama berakhir dengan keunggulan dua gol.

Babak Kedua: Nico Paz Lengkapi Dwigol Spektakuler

Memasuki babak kedua, Lazio mencoba meningkatkan intensitas serangan. Akan tetapi, lini tengah Como tampil solid dalam meredam setiap upaya tuan rumah.

Justru Como kembali mencetak gol pada menit ke-49. Lagi-lagi Nico Paz menjadi mimpi buruk Lazio. Kali ini, ia mencetak gol indah lewat tembakan melengkung dari luar kotak penalti.

Assist backheel dari Baturina membuka ruang bagi Paz untuk melepaskan tembakan keras ke sudut gawang. Skor berubah menjadi 3-0, dan Stadion Olimpico pun semakin sunyi.

Como Mengontrol Permainan hingga Akhir

Setelah unggul tiga gol, Como memilih menurunkan tempo permainan. Mereka lebih fokus menjaga keseimbangan dan memanfaatkan serangan balik.

Peluang tambahan sempat hadir lewat Lucas Da Cunha pada menit ke-73, namun Provedel kembali melakukan penyelamatan. Di sisi lain, Lazio juga mendapat kans melalui Gustav Isaksen jelang laga usai, tetapi gagal berbuah gol.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 3-0 untuk kemenangan Como tetap bertahan.

Fabregas Kembali Unggul atas Sarri

Kemenangan ini kembali menegaskan kecerdasan taktik Cesc Fabregas. Ia sukses membaca permainan Lazio dan memanfaatkan kelemahan lawan dengan sangat efektif.

Duel Lazio vs Como kali ini juga menjadi bukti bahwa Fabregas bukan sekadar mantan pemain bintang, melainkan pelatih muda dengan visi yang jelas dan keberanian mengambil keputusan besar.

Bagi Sarri, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Selain kalah skor, Lazio juga kalah dalam duel strategi.

Como Kirim Pesan Kuat ke Serie A

Hasil Lazio vs Como bukan hanya tentang tiga poin. Ini adalah pernyataan tegas bahwa Como 1907 layak diperhitungkan di Serie A musim ini.

Dengan performa solid, kombinasi pemain muda berbakat, dan kepemimpinan Fabregas di pinggir lapangan, I Lariani tampak siap menjadi kuda hitam yang merepotkan banyak tim besar.

Bagi Lazio, laga ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Sementara bagi Como, kemenangan di Olimpico adalah bukti bahwa mimpi besar mereka bukan sekadar angan.

By admin