JawaPos.com – Pelatih ganda putri pelatnas PBSI Eng Hian berusaha menjaga kualitas Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Apalagi, mereka adalah andalan Merah Putih di All England yang berlangsung pada 14–19 Maret 2023. Menurut pelatih yang akrab disapa Koh Didi itu, saat ini bukan masalah menang kalah. Tetapi, performa Apriyani/Fadia di lapangan belum konsisten.
”Kalau kalah, mereka tidak bisa mendapatkan pola permainan yang sebenarnya. Jadi, ini yang masih harus dipelajari,” ujarnya saat diwawancarai setelah memimpin latihan ganda putri.
Konsistensi permainan memang menjadi pekerjaan rumah bagi juara SEA Games Vietnam tersebut. Terutama ketika takluk di ajang beregu Badminton Asia Mixed Team Championships (BAMTC). Saat itu Apriyani/Fadia yang menjadi harapan kalah oleh andalan Korea Selatan Lee So-hee/Baek Ha-na 14-21, 9-21. Kekalahan itu membuat Indonesia kalah 1-3 dan membuat tim terhenti di babak perempat final. Padahal, ganda putri menjadi nomor yang sangat diandalkan untuk bisa menyumbang poin.
Disinggung kondisi Fadia yang sempat cedera, Koh Didi menerangkan bahwa bukan itu permasalahan utama. ”Jadi, dari hasil diskusi kami, masalah beban yang belum bisa di-handle Fadia,” paparnya.
Eks duet Flandy Limpele itu menuturkan, saat awal-awal dipasangkan pada pertengahan 2022, penampilan Apriyani/Fadia melejit. Salah satunya berhasil menjadi runner-up Indonesia Masters 2022. ”Itu tanpa beban dan target. Masih penjajakan tiba-tiba bagus. Ekspektasi orang berubah. Ekspektasi pengurus dan pelatih dan mereka sendiri jadi berubah,” ujarnya.
Koh Didi menyebutkan, soal mindset bermain itulah yang menjadi masalah serius, bukan perihal teknis. ”Kami sudah ngobrol. Di latihan dia punya kapasitas di atas rata-rata. Di atas 9 atau 10 untuk kemampuan. Tapi, pada saat turnamen, saat dia tidak bisa menjaga pikiran dan mentalitas, kemampuannya yang keluar cuma 30 persen. Itu yang jadi masalah dalam turnamen ini,” ucapnya.
Lantas, bagaimana jalan keluar yang disiapkan pihaknya? ”Jadi ya, kami perlu bantuan psikolog. Ini kan ada latihannya. Jadi, tidak hanya latihan di lapangan. Latihan untuk mindset, ketenangan, dan meng-handle. Itu ada latihannya,” katanya.
Sebab, jika tegang dalam bermain, Didi menilai itu dirasakan hampir semua pemain. ”Bahkan seperti Roger Federer atau (Rafael) Nadal kalau tegang ya tegang saja. Tapi, bagaimana dia me-reduce ketegangan itu secepat mungkin pada saat di lapangan. Untuk Fadia, ini masih diberikan latihan,” bebernya.
Didi menekankan, semua yang dijalani Fadia ini butuh proses. Sebab, seperti yang dikatakannya, Fadia terbilang baru untuk tembus ke level atas. ”Butuh jam terbang. Saya sendiri juga harus bisa mengontrol ekspektasi saya. Tidak bisa mengharapkan seperti Greysia (Polii) yang jam terbangnya lebih tinggi daripada Apriyani. Jadi, ini buat saya juga masih butuh waktu bagaimana bisa mendapatkan racikan yang pas. Baik sisi teknis maupun mentalitas dia,” ujarnya.
Soal target di All England, Didi menegaskan bahwa kondisi normal dalam arti fisik, mental, dan nonteknis siap bisa menjadi juara. ”Jadi gini, salah satu program yang kami kasih ke Fadia itu top level 1 sampai 10 musuh ya itu-itu saja. Dan bagaimana sekarang meng-handle musuh kita itu diri sendiri. Bagaimana saat kita masuk pikiran tenang rileks,” ucapnya.