JawaPos.com – Korban tewas akibat kelompok separatis teroris (KST) kembali jatuh di Papua. Menurut pengamat teroris Al Chaidar, kekerasan bersenjata yang merenggut nyawa di Papua sudah berlangsung lebih dari delapan tahun. Namun, dengan intensitas yang terus meningkat setiap tahun, tidak ada langkah konkret pemerintah untuk mengatasi pemberontakan tersebut. ”Inilah letak tidak seriusnya pemerintah,” katanya.

Penyanderaan pilot Susi Air belum lama ini menjadi batu ujian. Seharusnya, pemerintah paham bahwa pemberontakan berbasis teritori (teroris tamkin) tidak akan mampu dituntaskan kepolisian. Sebab, kepolisian tidak memiliki kemampuan tempur. Dia kemudian menyebut teroris tamkin semacam MIT Poso yang bisa ditumpas dengan keterlibatan militer.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Jayapura Pendeta Alberth Yoku menyayangkan penyanderaan pilot Susi Air Kapten Philips Max Mehrtens. ”Sebagai anak Papua, saya minta Egianus Kogoya dan kawan-kawan segera bebaskan pilot Susi Air. Jangan pertaruhkan nyawa pilot untuk kepentingan politik pragmatis,” pinta dia di Jakarta kemarin.

Aksi KST pimpinan Egianus Kogoya menyandera pilot Susi Air tersebut sama dengan menutup kemajuan di Papua. Pilot, lanjut dia, adalah pahlawan pembaruan kemajuan peradaban di tanah Papua.

”Tindakan Egi dkk sama dengan menutup pintu kemajuan di daerah-daerah terpencil (Papua) yang hanya didarati pesawat,” tegas Alberth. ”Untuk apa pilot disandera? Apa kesalahan mereka? Jangan jadikan pilot sebagai komoditas politik,” imbuhnya.

By admin