JawaPos.com – Hati-hati dalam mencerna pendapat orang lain apalagi teman sendiri soal vaksinasi Covid-19. Sebab kini masih ada teori konspirasi yang tak percaya vaksin atau anti-vaksin lalu membuat orang lain jadi menolak divaksinasi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang enggan divaksinasi tidak sepenuhnya kebal terhadap norma sosial. Mereka yang tak mau divaksinasi bisa saja berubah pikiran ketika teman dan keluarga secara terbuka menyetujui vaksin.

“Maka lebih baik menjaga ikatan sosial dengan teman lain daripada dekat dengan teman yang anti-vaksik atau percaya teori konspirasi,” kata peneliti psikologi sosial Kevin Winter dari University of Tübingen di Jerman, yang memimpin penelitian tersebut.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Sebut Tak Ada Masalah Bila Terlambat Vaksinasi Kedua

“Ketika orang lain yang dekat menyetujui vaksinasi Covid-19, orang-orang dengan mentalitas konspirasi yang tinggi bisa saja akhirnya bersedia untuk divaksinasi Covid-19,” ujarnya seperti dilansir dari Science Alert, Minggu (8/8).

Sementara petugas kesehatan tetap menjadi penasihat keputusan vaksinasi yang paling terpercaya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa pandangan keluarga dan teman juga dapat berpengaruh.

Keragu-raguan terhadap vaksin bukanlah hal yang perlu dicemooh. Bahkan data WHO pada 2019 sebagai salah satu dari 10 ancaman teratas bagi kesehatan global. Sementara di tengah pandemi, kondisi ini mendorong lebih banyak orang agar divaksinasi untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain agar tidak jatuh sakit parah akibat Covid-19.

Penelitian telah menunjukkan hubungan yang kuat antara pemikiran konspirasi dan sikap anti-vaksin. Pemikiran konspirasi menurunkan minat vaksin. Tetapi orang-orang yang ragu-ragu terhadap vaksin yang cenderung memercayai teori konspirasi masih bisa terpengaruh oleh orang-orang di sekitar mereka, dengan sumber tepercaya.

“Manusia adalah makhluk sosial, sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang kepercayaan dan sikap orang lain yang dekat, seperti teman dan keluarga,” tulis para peneliti.

Penelitian sebelumnya oleh Winter dan rekan menunjukkan kepercayaan pada teori konspirasi tentang Covid-19 berjalan seiring dengan kepercayaan yang lebih rendah pada lembaga pemerintah. Namun demikian, dalam studi baru, tim menyelidiki interaksi antara mentalitas konspirasi seseorang, sikap terhadap vaksin, dan persepsi tentang apa yang dipikirkan teman dekat dan keluarga tentang vaksinasi.

Sebanyak 1.280 orang dewasa direkrut dalam lima penelitian, dua dilakukan di laboratorium dan tiga secara online.
Peserta ditanyai tentang sikap terhadap vaksin yang mungkin mereka butuhkan di dunia nyata atau skenario hipotetis, seperti bepergian ke negara asing, untuk melindungi anak mereka dari hepatitis B, atau melindungi diri mereka sendiri dari influenza atau Covid-19.

Analisis gabungan dari lima studi menunjukkan bahwa jika di lingkaran mereka mendukung vaksin, ini tampaknya mengalahkan keyakinan konspirasi. “Temuan kami menunjukkan bahwa ketika teman dan keluarga menyetujui vaksinasi, keyakinan konspirasi tidak lagi berperan,” kata Winter kepada PsyPost.

Kesimpulannya, daripada sulit mencoba membujuk orang yang percaya pada teori konspirasi, mungkin cukup bagi keluarga dan temannya untuk memberi sinyal dukungan menjadi teladan agar mau divaksin. Maka hal itu bisa membuat mereka yang percaya konspirasi atau anti-vaksin tersadar. Penelitian ini dipublikasikan di British Journal of Health Psychology.

By admin